Menjaga langit tetap biru di tengah kepungan kebakaran hutan dan lahan

Banjarbaru (ANTARA) - Di bawah terik matahari dan kepungan kabut asap, ribuan petugas berjibaku di hamparan lahan gambut Kalimantan Selatan. Selang diulur, mesin pompa dihidupkan, dan air disemprotkan untuk menjinakkan kebakaran hutan dan lahan.

Napas mereka terengah-engah, kaki gemetar, dan tangan mulai letih setelah bekerja sejak pagi hingga malam. Ketika sebagian orang memilih menjauh dari kepungan asap, para petugas justru bergerak mendekat menuju titik api.

Mereka bekerja dengan sistem komando dan bergantian menjaga garis depan. Ada keluarga yang menunggu di rumah, tetapi tugas tetap dijalankan karena mereka memahami kabut asap yang tidak segera dikendalikan dapat mengganggu kesehatan, pendidikan, aktivitas sosial, ekonomi, hingga ketahanan pangan.

Perjuangan itu tidak berhenti ketika kobaran di permukaan padam. Pada lahan gambut, bara dapat terus menyala di bawah tanah dan kembali memicu kebakaran. Karena itu, petugas harus memastikan lahan benar-benar basah sebelum meninggalkan lokasi.

Bara yang tersembunyi

Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mengingatkan satuan tugas memastikan lahan tetap basah meski api telah padam agar kebakaran tidak kembali terjadi.

“Penanganan karhutla harus memastikan seluruh api berhasil dipadamkan melalui kolaborasi berbagai instansi,” kata Jumhur saat meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Jalan Kurnia, Liang Anggang, Banjarbaru, Senin (24/8).

Satgas Darat menerapkan metode suntik bawah tanah dengan mengalirkan air hingga beberapa meter ke dalam lahan gambut untuk memadamkan bara yang masih menyala. Cara itu menjadi penting karena api yang menghanguskan vegetasi di permukaan belum tentu mematikan panas di bawah tanah.

Pemerintah pusat juga menyiapkan pembangunan sejumlah sumur bor di wilayah rawan kebakaran, khususnya Banjarbaru. Sumur tersebut direncanakan memiliki kedalaman 40 hingga 50 meter untuk menjadi sumber air bagi pemadaman dan pembasahan lahan.

Kebutuhan air semakin penting karena kemarau membuat lahan lebih mudah terbakar. Peringatan BMKG bahwa fenomena El Nino diperkirakan berlangsung hingga awal 2027 membuat pemerintah harus menjaga pembasahan agar api tidak terus berulang.

Perjuangan satgas darat dan udara

Pemerintah membagi penanganan ke dalam tiga zonasi prioritas di Banjarbaru, yakni Guntung Damar, Hutan Lindung Liang Anggang, dan Pengayuan. Pemerintah pusat, Pemprov Kalsel, UPT Kemenhut, Polri, TNI, perangkat daerah, unsur Forkopimda, relawan pemadam kebakaran, hingga masyarakat berbagi tugas di wilayah tersebut.

Kawasan itu menjadi ring satu karena berdekatan dengan Bandara Internasional Syamsudin Noor sehingga kebakaran hutan dan lahan perlu ditekan secepat mungkin agar tidak mengganggu aktivitas dan ketahanan ekonomi daerah.

Di tiga wilayah prioritas tersebut, pemerintah menurunkan 300 pompa yang dioperasikan ribuan personel. Setiap pompa membutuhkan enam personel dan dioperasikan secara bergantian dalam shift siang hingga malam untuk memastikan pembasahan tetap berlangsung.

Selain kekuatan darat, BNPB mengirimkan empat helikopter pengebom air berkapasitas 400 hingga 1.000 liter air untuk memadamkan titik api yang sulit dijangkau petugas darat.

Dukungan udara diperkuat satu helikopter patroli dan satu pesawat untuk operasi modifikasi cuaca. Armada patroli udara digunakan memantau titik api secara dini sekaligus mengawasi kemungkinan aktivitas manusia yang sengaja membakar lahan. Dengan tambahan tersebut, tujuh armada udara membantu penanganan karhutla di Kalimantan Selatan.

Kehadiran helikopter menjadi bagian penting dari perjuangan satgas. Ketika petugas darat mengulur selang menuju titik api, armada udara bergerak dari atas untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi dan membantu mempercepat pemadaman.

Pagi, siang, hingga malam, ribuan personel dari berbagai unsur terus bekerja. Mereka meninggalkan keluarga dan menjalankan tugas dengan semangat “pantang pulang sebelum padam”, karena setiap bara yang tersisa berpotensi kembali menjadi api.

Sistem pengairan 24 jam

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Selatan menjadi penyuplai air selama 24 jam untuk memperkuat penanganan di daerah prioritas.

Dinas PUPR Kalsel menyiapkan satu pompa berukuran delapan inci dan sekitar 15 pompa dumping berukuran empat inci untuk pembasahan di Hutan Lindung Liang Anggang.

Seluruh peralatan dioperasikan secara bergantian agar tetap prima. “Karena ini sifatnya pekerjaan 24 jam, jadi harus dirotasi supaya alat ini tetap prima untuk pembasahan di kawasan hutan lindung,” kata Kepala Dinas PUPR Kalsel M Yasin Toyib.

Di Guntung Damar, suplai air diarahkan menuju Embung Jokowi. Embung tersebut mendukung pembasahan tim darat sekaligus menjadi sumber air bagi operasi water bombing BNPB.

Pasokan air berasal dari jaringan irigasi di Cidayalus. Balai Wilayah Sungai menyiapkan pompa pendorong berkapasitas 250 liter per detik, sedangkan Dinas PUPR Kalsel memperbaiki saluran untuk mempercepat pengaliran air menuju embung.

Rangkaian itu menunjukkan pemadaman bukan hanya pekerjaan mereka yang berhadapan langsung dengan api. Di belakang garis depan terdapat pompa, saluran, embung, personel, dan armada udara yang bekerja bersama agar pembasahan tidak terputus.

Patroli dan penegakan hukum

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan faktor alam hanya menjadi pemicu kebakaran, sedangkan penyebab utamanya adalah ulah manusia. Karena itu, Pemprov Kalsel menambah tim patroli darat dari empat menjadi 20 tim.

“20 tim patroli karhutla akan didukung tim dengan teknologi drone untuk mencegah munculnya titik api baru khususnya di wilayah prioritas di Banjarbaru,” kata Wamenko Hanif menjelaskan.

Pengawasan dan penegakan hukum diperlukan agar kebakaran tidak terus berulang.

Jumhur menyebut lebih dari 30 perusahaan diproses sepanjang 2026 di berbagai wilayah dengan potensi kerugian negara dan pemulihan lingkungan mencapai hampir Rp15 triliun.

“Sekitar Rp5 triliun untuk kerugian negara dan hampir Rp10 triliun untuk pemulihan lingkungan,” kata Menteri LH Jumhur.

Pemerintah juga menyelidiki sekitar 42 perusahaan di Kalimantan terkait dugaan pelanggaran yang menyebabkan kebakaran sepanjang 2026. Dari jumlah itu, 11 perusahaan berada di Kalimantan Selatan.

Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH Irjen Pol Rizal Irawan mengatakan indikasi di Kalimantan Selatan diketahui setelah data hotspot dari citra satelit dioverlay dengan peta wilayah konsesi perusahaan untuk melihat titik panas yang berada di area HGU maupun IUP.

Hingga 25 Agustus 2026, Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan Ronny Eka Saputra mengatakan 1.903 kejadian karhutla dengan luas terdampak 9.088 hektare terjadi di Kalimantan Selatan. Kabupaten Banjar 388 kejadian dengan luas 2.037,72 hektare, Tanah Laut 301 kejadian dengan luas 1.661,77 hektare, dan Banjarbaru 360 kejadian dengan luas 1.398,40 hektare.

Hulu Sungai Selatan mencatat 246 kejadian dengan luas 1.171,63 hektare, Tapin 151 kejadian dengan luas 861,75 hektare, dan Barito Kuala 132 kejadian dengan luas 803,20 hektare. Hulu Sungai Utara 93 kejadian dengan luas 507,78 hektare, Hulu Sungai Tengah 57 kejadian dengan luas 153,61 hektare, Tanah Bumbu 48 kejadian dengan luas 150,35 hektare, Tabalong 29 kejadian dengan luas 135,13 hektare, dan Kotabaru 42 kejadian dengan luas 40,42 hektare.

Angka itu menjadi pengingat agar kebakaran hutan dan lahan pada 2023 tidak terulang ketika luas karhutla Kalimantan Selatan mencapai sekitar 190.000 hektare.

Di tengah ancaman tersebut, kehidupan harus tetap berjalan, ketahanan pangan menjadi pondasi penting.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan Syamsir Rahman memastikan daerah itu telah memproduksi lebih dari 900 ribu ton padi dari target 1,2 juta ton pada 2026.

Produksi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan ketika karhutla dan kemarau berlangsung bersamaan.

Sementara itu, di lapangan mesin pompa tetap bekerja, helikopter siap bergerak, patroli terus mengawasi, dan ribuan petugas memastikan bara tidak kembali menjadi api.

Di balik semua itu ada harapan besar agar masyarakat kembali menghirup udara bersih.

Langit yang bebas dari kabut asap mungkin tampak sederhana, tetapi di baliknya ada kerja panjang sejak matahari terbit hingga malam.

Sebab menjaga langit tetap biru bukan hanya tentang memadamkan api. Lebih dari itu, untuk menjaga kehidupan tetap berjalan, ruang untuk bernapas tetap tersedia, dan masyarakat dapat menatap hari esok dengan lebih aman dan tenang.