Disbud DIY mengedukasi tentang pencak silat bukan sekadar warisan tradisi

Disbud DIY mengedukasi tentang pencak silat bukan sekadar warisan tradisi

Rabu, 26 Agustus 2026 21:11 WIB

Image Print

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi dan tokoh Paseduluran Angkringan Silat dalam konferensi pers Pencak Wisata Budaya 2026 di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY, Rabu (26/8/2026). ANTARA/Hery Sidik

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Komunitas Paseduluran Angkringan Silat DIY menggelar Pencak Wisata Budaya ke-5 (PWB 5) pada 27 sampai 29 Agustus 2026 sebagai edukasi kepada publik bahwa pencak silat bukan sekadar warisan tradisi.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi dalam konferensi pers di Yogyakarta, Rabu, mengatakan, agenda kebudayaan agung tahunan selama tiga hari itu akan dipusatkan di pusat Kota Yogyakarta dan di Camp Pencak Silat di Turi, Kabupaten Sleman.

"PWB 5 hadir sebagai panggung diplomasi budaya dan wahana edukasi publik untuk menegaskan pencak silat bukan sekadar warisan tradisi fisik belaka, melainkan manifestasi kearifan lokal yang sarat akan nilai-nilai luhur Bangsa Nusantara," katanya.

Menurut dia, sejak UNESCO menetapkan tradisi pencak silat sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 12 Desember 2019 di Bogota, Kolombia, tanggung jawab moral bangsa Indonesia untuk menjaga, merawat, dan mentransmisikan seni beladiri ini menjadi semakin krusial.

Namun, di tengah gempuran modernisasi dan dinamika globalisasi, kerap kali terjadi pergeseran persepsi di mana pencak silat hanya dipandang sebatas olah fisik, beladiri praktis, atau olahraga prestasi semata.

"Kami memandang perlunya penguatan akar filosofis pencak silat. Sesuai namanya, Paseduluran Angkringan Silat ini berawal dari ruang-ruang diskusi kebudayaan yang hangat, mengedepankan asas persaudaraan, keterbukaan, dan kesetaraan," katanya.

Melalui landasan tersebut, Pencak Wisata Budaya (PWB) digagas sebagai ajang berkala yang mengawinkan nilai spiritualitas, seni pergerakan, nilai etika, dan potensi pariwisata berbasis budaya.

Tokoh Paseduluran Angkringan Silat Yogyakarta Yosi mengatakan, pencak silat adalah cermin jati diri Nusantara yang di dalamnya terkandung falsafah hidup budi pekerti luhur, rasa hormat kepada sesama, keberanian membela kebenaran, serta keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

"Melalui PWB 5, kami menegaskan kepada masyarakat luas, baik domestik maupun internasional, bahwa melestarikan pencak silat berarti mempertahankan pondasi moral dan kearifan lokal bangsa," katanya.

Menurut dia, dipilihnya Yogyakarta sebagai pusat kegiatan tidak lepas dari peran strategis sebagai Kota Budaya, Kota Pelajar, dan destinasi wisata internasional. Kehadiran mahasiswa asing di Yogyakarta juga merupakan aset diplomasi yang sangat potensial.

"Dengan demikian, dapat menjadikan mereka sebagai 'duta kebudayaan' yang mengerti dan mengagumi nilai-nilai pencak silat adalah strategi jangka panjang dalam membawa kearifan lokal Nusantara ke panggung dunia," katanya.

Pewarta : Hery Sidik
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026