Menkraf: Ekonomi kreatif mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional
Kamis, 30 Juli 2026 20:16 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dalam Jatim Media Summit 2026, di Surabaya, Kamis (30/7/2026). (ANTARA/Astrid Faidlatul Habibah)
Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) -
Menteri Ekonomi Kreatif (Menkraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan sektor ekonomi kreatif (ekraf) telah menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus memperkuat daya saing produk lokal dengan pengembangannya dimulai dari daerah.
"Kalau budaya itu adalah hulunya, maka ketika turunannya diberikan sentuhan inovasi, teknologi, dan kreativitas, di situlah lahir ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif ini bukan akan, tetapi telah menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah," katanya dalam Jatim Media Summit 2026, di Surabaya, Kamis.
Menurut dia, Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekonomi kreatif karena didukung kekayaan budaya, sumber daya manusia, dan ekosistem usaha kreatif yang terus berkembang.
Ia mengatakan arah pembangunan ekonomi kreatif juga sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
"Kita ingin mengembangkan lapangan kerja berkualitas. Ada kata 'berkualitas' karena dibutuhkan keterampilan atau skill. Kalau pegiat ekonomi kreatif hanya membuka lapangan kerja saja, nanti akan berhenti di level UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah)," ujarnya.
Oleh sebab itu, lanjutnya, pelaku ekonomi kreatif perlu meningkatkan kapasitas melalui penguasaan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) agar mampu meningkatkan produktivitas, inovasi, serta daya saing industri kreatif.
"Yang kita butuhkan adalah tambahan skill, terutama kemampuan beradaptasi dengan perkembangan digital dan AI sehingga industri kreatif bisa berkembang semakin baik," katanya.
Selain peningkatan kompetensi sumber daya manusia, Teuku menilai hilirisasi juga perlu diterapkan pada sektor ekonomi kreatif sehingga tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan.
Hilirisasi ekonomi kreatif, kata dia, dapat dilakukan dengan memperkuat produk-produk lokal agar mampu menggantikan dominasi produk kreatif dari luar negeri di pasar domestik.
"Hilirisasi tidak hanya bicara tambang. Produk kreatif kita juga harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Fesyen asing bisa digantikan fesyen lokal, musik asing menjadi musik lokal, film juga demikian, games, aplikasi, dan berbagai produk kreatif lainnya," ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi kreativitas yang tidak akan pernah habis namun potensi tersebut memerlukan dukungan berbagai pihak agar mampu berkembang menjadi industri yang berkelanjutan.
Ia pun meminta pemerintah daerah, media, dunia usaha, hingga komunitas kreatif agar masif mendampingi pelaku ekonomi kreatif agar produk yang dihasilkan semakin dikenal masyarakat.
Ia optimistis penguatan ekosistem ekonomi kreatif melalui peningkatan keterampilan, pemanfaatan teknologi digital, serta strategi hilirisasi produk akan menjadi salah satu penggerak baru pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah dan daya saing Indonesia di pasar internasional.
"Para pegiat ekonomi kreatif tidak pernah habis dengan hasil kreativitasnya. Yang diperlukan adalah pendampingan dari pemerintah daerah, media, dan seluruh pemangku kepentingan agar produk-produk kreatif Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu menembus pasar regional hingga global," katanya.
Berdasarkan data Kementerian Ekraf, total nilai investasi bidang ekraf pada 2025 mencapai Rp183,01 triliun yakni tumbuh 32,23 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp138,4 triliun dan tetap tinggi dibanding 2023 yang hanya Rp89,37 triliun.
"Ini realisasi, bukan MOU. Dan realisasi ini (2025) jumlahnya 9,5 persen dari total realisasi investasi nasional," ujar Teuku.
Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026