Menteri PKP tegaskan KUR Perumahan perkuat ekonomi keluarga - ANTARA News Jawa Timur

Surabaya (ANTARA) - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan tidak hanya bertujuan membantu masyarakat memiliki atau meningkatkan kualitas rumah, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi keluarga.

Menteri Ara sapaannya saat meninjau penerima manfaat KUR Perumahan bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di Surabaya, Jatim, Senin mengapresiasi kinerja bank tersebut sebagai bank dengan penyaluran KUR Perumahan tertinggi di Indonesia.

Menurut dia, capaian tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong pemerintah meningkatkan plafon KUR Perumahan dari Rp36 miliar menjadi Rp50 miliar.

“Di Kantor Menko, saya dipanggil bersama para menteri lainnya yang memiliki Program KUR. Dari seluruh program tersebut, hanya KUR Perumahan yang plafonnya ditingkatkan dari Rp36 miliar menjadi Rp50 miliar. Ini tidak mungkin terjadi tanpa kerja keras BRI. Atas nama negara dan pemerintah, saya mengucapkan terima kasih kepada BRI,” ujar Menteri Ara.

Ia juga berharap keberhasilan tersebut diikuti dengan pemberian apresiasi kepada tim penyalur KUR Perumahan yang telah menunjukkan kinerja terbaik.

“Tolong kepada jajaran direksi, tim KUR yang berprestasi juga diberikan penghargaan. Dengan begitu, KUR Perumahan akan semakin maju dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” katanya.

Menteri Ara menegaskan bahwa pemerintah telah menetapkan kebijakan agar pinjaman KUR bagi UMKM di bawah Rp100 juta tidak mensyaratkan jaminan sehingga masyarakat semakin mudah memperoleh akses pembiayaan formal.

“Pinjaman UMKM di bawah Rp100 juta tidak boleh meminta jaminan. Kalau masih ada yang meminta jaminan, laporkan kepada saya. Ini kebijakan negara agar masyarakat mendapatkan pembiayaan yang mudah, murah, dan cepat. Negara harus hadir melawan praktik rentenir.” tegasnya.

Menteri Ara menekankan bahwa pembangunan sektor perumahan harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi keluarga agar masyarakat dapat keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

“Jangan hanya berpikir membangun rumah, tetapi juga harus membangun ekonomi keluarga. Kita harus melihat persoalan secara utuh. Jangan bangga jika suatu daerah memiliki banyak penerima bantuan sosial, karena itu berarti masih banyak kemiskinan dan pengangguran. Sebaliknya, ketika penerima bansos berkurang, itulah tanda pemerintah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Ara menyisipkan motivasi kepada para penerima manfaat dan keluarga agar terus mengutamakan pendidikan serta semangat bekerja keras.

“Saya merasa hidup saya berarti apabila suatu saat lahir anak-anak hebat dari Kota Pahlawan yang mampu membanggakan orang tuanya. Saya merasakan aura positif di Surabaya, karena setiap ibu juga adalah pahlawan bagi anak-anaknya,” katanya.

Direktur Consumer Banking BRI, Aris Hartanto menyampaikan apresiasi atas dukungan dan arahan Menteri Ara dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan BRI melalui Program KUR Perumahan.

Menurut Aris, Program KUR Perumahan merupakan bagian dari upaya pemerintah menyediakan hunian yang terjangkau melalui kolaborasi seluruh ekosistem perumahan. Hingga 3 Agustus 2026, BRI telah membukukan closing penyaluran KUR Perumahan sebesar Rp410 miliar kepada 1.621 debitur

Sementara itu, hingga 31 Juli 2026, realisasi penyaluran KUR Perumahan telah mencapai Rp11,02 triliun atau sekitar 92 persen dari target penyaluran tahun 2026 sebesar Rp12 triliun.

“Capaian tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap Program KUR Perumahan. BRI akan terus mendukung program-program pemerintah, termasuk Program KUR Perumahan, agar semakin banyak masyarakat memperoleh akses pembiayaan yang mudah, cepat, dan terjangkau,” kata Aris.

Pewarta: Willi Irawan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.