MUI ajak masyarakat patuhi petunjuk keselamatan hadapi potensi bencana - ANTARA News Ambon, Maluku

Jakarta (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh petunjuk keselamatan dari pihak berwenang menghadapi potensi ancaman bencana alam, termasuk aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Terhadap bencana yang tidak bisa kita pilih ini, langkah yang harus kita ambil adalah respons yang tepat melalui pendekatan wiqa'i atau preventif, memanfaatkan ilmu pengetahuan serta sistem peringatan dini," ujar Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Ni’am Sholeh di Jakarta, Senin.

Asrorun Ni’am menjelaskan bencana alam seperti gunung meletus merupakan bagian dari fenomena alam yang berada di luar kendali langsung manusia. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap mitigasi teknis menjadi langkah utama dalam meminimalkan risiko korban jiwa.

Ia menjelaskan erupsi atau fenomena alam seperti gunung meletus adalah sunnatullah. Namun Islam mengajarkan umatnya untuk tidak bersikap pasrah tanpa ikhtiar. Manusia wajib memanfaatkan akal dan ilmu pengetahuan untuk menjaga keselamatan jiwa.

Ni’am meminta masyarakat, khususnya yang berada di sekitar kawasan rawan bencana, untuk terus memantau penanda ilmu pengetahuan dan informasi resmi dari lembaga terkait, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) maupun Pos Pengamatan Gunung Api.

"Dengan penanda ilmu astronomi, informasi dari BMKG, dan early warning system, kita perlu berhati-hati. Kita harus paham mekanisme keselamatan dan pengamanan dini jika terjadi semburan atau erupsi," katanya.

Di samping langkah mitigasi teknis dan kewaspadaan mandiri, ia menekankan pentingnya respons sosial dari masyarakat yang berada di wilayah aman. Ni'am menyebut keberadaan masyarakat yang tidak terdampak langsung merupakan bentuk ujian tersendiri untuk menguji sejauh mana empati dan kepedulian sosial diwujudkan.

Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah berakhir setelah berlangsung selama 25 jam.

Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan evaluasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang diterima di Jakarta, Senin, menyampaikan episode erupsi menerus yang dimulai sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB resmi berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.

"Pasca-berakhirnya episode tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bertransisi kembali ke karakteristik erupsi strombolian yang ditandai dengan perekaman tiga kali gempa letusan/erupsi strombolian," kata Lana.

Badan Geologi menginterpretasikan kembalinya erupsi strombolian ini sebagai penanda berakhirnya fase letusan terus menerus berdurasi panjang. Kendati demikian tingkat probabilitas terjadinya letusan susulan pada periode berikutnya dinilai masih tinggi.

Pewarta: Asep Firmansyah
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.