Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi tahunan atau year on year Nusa Tenggara Barat (NTB) pada September 2026 menyentuh angka 4,18 persen yang menandakan posisinya berada di atas batas maksimal sasaran pemerintah sebesar 3,5 persen.
"Saya menyampaikan khusus ke TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) agar terus melakukan gerakan-gerakan dalam rangka untuk menekan laju inflasi supaya tidak di atas ring yang sudah ditetapkan oleh pemerintah," kata Kepala BPS NTB Wahyudin dalam paparan statistik bulanan di Mataram, Kamis.
Wahyudin mengatakan angka inflasi tahunan Nusa Tenggara Barat tersebut juga lebih tinggi dibandingkan laju inflasi nasional yang tercatat hanya sebesar 3,28 persen pada September 2026.
Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, imbuh dia, inflasi tahunan NTB pada September 2026 meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 4,03 persen.
Kondisi tersebut terjadi meskipun inflasi secara bulanan pada September 2026 melambat menjadi 0,36 persen dari sebelumnya mencapai 0,57 persen pada Agustus 2026.
"Penurunan tersebut berarti bukan deflasi, tetapi melambat dari sebelumnya 0,57 persen menjadi 0,36 persen. Inflasi melambat, bukan berarti terjadi deflasi," papar Wahyudin.
Lebih lanjut dia menyampaikan inflasi bulanan yang masih terjadi pada September 2026 turut membuat angka inflasi tahunan meningkat menjadi 4,18 persen di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan daerah itu dengan andil sebesar 1,89 persen. Kemudian, penyumbang terbesar kedua berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil sebesar 0,72 persen.
Baca juga: Hari Statistik Nasional cermin pentingnya data pembangunan
Wahyudin menjelaskan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya secara bulanan pada September mengalami deflasi 0,20 persen. Bila dibandingkan dengan kondisi September 2025, maka kelompok tersebut masih mengalami inflasi sebanyak 11 persen.
"Walau kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya itu tertinggi (secara inflasi), tetapi bobot (andil) kelompok makanan, minuman, dan tembakau paling besar," pungkas Wahyudin.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026