Oligopoli Jurnal Ilmiah dan Tiga Pilihan Pahit Para Pesaing Baru

Kita perlu memahami bahwa pasar jurnal ilmiah sangat terkonsolidasi. Kondisi konsolidasi ini yang menentukan persepsi kita akan mana jurnal ilmiah yang “bereputasi sangat tinggi”, dan mana yang dipersepsikan sebagai “jurnal predator”. Perlu disadari bahwa semua narasi ini adalah sangat kental nuansa persaingan bisnisnya, dan terkait pemasaran atau branding penerbitnya itu sendiri.

Angka yang paling gampang dicerna datang dari laporan keuangan RELX, induk Elsevier yang merupakan penerbit jurnal ilmiah terbesar di dunia. Untuk tahun buku 2024, divisi Scientific, Technical and Medical mereka mencatat pendapatan 3,05 miliar poundsterling dengan adjusted operating profit 1,17 miliar poundsterling. Marginnya 38,4 persen. Angka itu dirilis RELX sendiri pada Februari 2025, jadi bukan tafsiran pihak luar.

Sebagai pembanding kasar: sangat sedikit industri yang bisa bertahan di angka segitu. Sejumlah pengamat memang gemar membandingkannya dengan margin operasi Google atau Apple yang beberapa tahun terakhir bergerak di kisaran dua puluhan persen. Saya sendiri agak hati-hati dengan perbandingan itu karena definisi margin tiap perusahaan berbeda dan tahun bukunya tidak selalu sepadan. Tapi arah kesimpulannya sulit dibantah. Menerbitkan jurnal ilmiah, dikerjakan dengan skala yang benar, adalah bisnis yang luar biasa menguntungkan.

Sekarang, pertanyaannya, kenapa marginnya bisa setinggi itu? Karena hampir semua input utamanya gratis. Gambaran proses bisnisnya memang sangat efisien dari kacamata korporasi. Naskah ditulis peneliti tanpa dibayar penerbit. Peer review dikerjakan reviewer tanpa dibayar. Editor sering hanya menerima honor kecil, kadang tidak sama sekali. Risetnya sendiri dibiayai negara, kampus, atau lembaga donor. Setelah semua itu selesai, institusi yang sama membayar lagi, entah lewat langganan atau lewat Article Processing Charge (APC), untuk membaca hasil kerja stafnya sendiri. Menariknya, biaya marginal distribusi digital mendekati nol. Masalah distribusi dan supply chain yang jadi momok di industri manufacturing, mining, dan transportasi misalnya, bisa mereka engineered sampai di level yang efisiensinya hampir sempurna. 

Struktur seperti ini tidak muncul kemarin sore. Larivière, Haustein, dan Mongeon menerbitkan analisis atas 45 juta dokumen terindeks Web of Science periode 1973 sampai 2013 di PLOS ONE tahun 2015. Kesimpulannya, pada 2013, lima penerbit terbesar menguasai lebih dari separuh seluruh artikel yang terbit. Perlu dicatat, datanya ini berhenti di 2013, sebelum isu “jurnal predator” meledak. Jadi komposisi pastinya hari ini kemungkinan sudah bergeser, namun tidak akan banyak berubah. Yang tidak bergeser adalah polanya: selalu mengarah ke konsentrasi modal, bukan fragmentasi. Konsekuensinya sama seperti oligopoli di sektor lain, seperti makanan cepat saji (fast food) dan minuman ringan (soft drink). Mereka memiliki privilege untuk melakukan: kendali harga, kendali negosiasi business-to-business dengan konsorsium perpustakaan, dan yang paling halus, kendali atas persepsi mutu dan merek (branding). Dari mana mereka memiliki pengaruh sampai sekuat itu

Di sinilah letak asimetri yang sering luput dibahas, yaitu terkait company yang punya akses ke pasar modal, dan yang tidak. RELX melantai di London, Amsterdam, dan New York. Wiley di NYSE. Taylor & Francis berada di bawah Informa yang tercatat di London. Springer Nature menyusul dengan IPO di Bursa Efek Frankfurt pada 4 Oktober 2024, harga penawaran 22,50 euro per saham, kapitalisasi pasar sekitar 4,5 miliar euro. Penerbit tersebut biasa disebut sebagai “The Big Four”. Suntikan modal yang besar, berarti memiliki budget marketing dan branding yang besar juga, sehingga bisa pengaruhi persepsi pasar. 

Penerbit yang baru seperti Hindawi, MDPI, dan Frontiers tidak demikian. Ketiganya adalah perusahaan tertutup dan tidak mempublikasikan laporan keuangan. Ketika penerbit terbuka butuh modal untuk akuisisi, pembangunan platform, atau sekadar bertahan melewati tahun pembukuan yang buruk, mereka bisa menerbitkan saham baru. Perusahaan tertutup punya pilihan ekspansi yang jauh lebih sempit: kas internal, utang, private equity, atau menjual perusahaannya. Dua contoh berikut ini sudah tersedia, dan hasilnya jelas berbeda jauh.

Apa yang terjadi pada penerbit Hindawi adalah kasus menarik. Wiley mengakuisisi Hindawi pada Januari 2021 senilai 298 juta dolar AS. Di atas kertas ini akuisisi yang masuk akal: sekitar 200 jurnal open access dengan pertumbuhan cepat. Yang terjadi berikutnya sudah jadi catatan kaki paling terkenal dalam sejarah penerbitan ilmiah. Paper mill, yang merupakan pelanggaran serius integritas akademis, masuk lewat celah special issue dan guest editor. Wiley menghentikan sementara penerbitan special issue Hindawi pada Oktober 2022. Clarivate mencabut 19 jurnal Hindawi dari Web of Science pada Maret 2023. Terjadi total retraksi artikel ilmiah menembus 11.300 artikel. Pada Desember 2023 Wiley mengumumkan akan menghentikan pemakaian merek Hindawi dan melebur sisa jurnalnya ke dalam portofolio sendiri. Biaya akuisisi ini sangatlah nyata. Wiley melaporkan pendapatan turun 18 juta dolar dalam satu kuartal dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan memperkirakan kehilangan 35 sampai 40 juta dolar untuk satu tahun pembukuan. Akuisisi itu bukan penyelamatan. Itu pemindahan risiko yang kemudian terdisposisi di tangan pembelinya.

Bentham Science adalah penerbit baru juga yang memiliki niche, namun memang tidak seterkenal MDPI, Frontiers dan Hindawi. Mereka memilih jalan lain. Yaitu alih-alih dijual, mereka memilih menandatangani kerja sama distribusi dengan Elsevier. Sejak 2024, konten open access Bentham, baik dari jurnal Gold OA maupun bagian OA dari jurnal hybrid-nya, tampil di ScienceDirect. Jumlah jurnal yang disebut dalam berbagai rilis memang bervariasi. Secara bisnis ini rasional. Visibilitas mereka naik, sitasi juga berpotensi naik, dan Bentham tetap memiliki jurnalnya. Tapi ada yang berpindah tangan di situ, yaitu platform penyedia informasi. Pembaca menemukan artikel Bentham di platform milik pesaing terbesarnya.  Dalam jangka panjang, yang menguasai titik temu antara pembaca dan artikel punya daya tawar lebih besar daripada yang sekadar memiliki artikelnya.

Sejauh ini, MDPI dan Frontiers belum menentukan sikap mengenai strategic direction company. Posisi keduanya jelas sedang ditekan oleh pesaing “big four”, meski kita hanya bisa membacanya lewat indikator tidak langsung karena keuangannya tertutup. Menurut hitungan James Butcher di buletin Journalology berbasis data Dimensions, MDPI menerbitkan sekitar 50.000 artikel riset lebih sedikit pada 2024 dibanding puncaknya di 2022.

Frontiers turun sedikit lebih rendah dari itu. Pada Januari 2024 Frontiers memberhentikan sekitar 600 dari 2.000 karyawannya. Ini estimasi pihak ketiga, bukan angka resmi perusahaan, tapi arahnya konsisten. Tekanan reputasinya juga bertumpuk. Clarivate mencabut International Journal of Environmental Research and Public Health milik MDPI dari Web of Science pada Maret 2023, jurnal yang tahun sebelumnya menerbitkan sekitar 17.000 artikel. Badan klasifikasi Finlandia menurunkan puluhan jurnal MDPI dan Frontiers ke level nol. Norwegia mencoret Sustainability dari daftar jurnal yang diakui. Dan di sinilah saya ingin tidak sepenuhnya sepakat dengan cara isu ini dibingkai, terutama terkait isu “Jurnal Predator”.

Label "jurnal predator" dipakai terlalu longgar, sumir, dan justru itu yang membuat MDPI dan Frontiers tidak terlalu berhasil menjawabnya. Model yang bermasalah sebenarnya bukan open access, melainkan special issue bervolume tinggi yang dikelola guest editor dengan pengawasan longgar. Masalahnya, model itu tidak eksklusif milik mereka. Sebuah studi di Accountability in Research tahun 2024 menelusuri tiga jurnal milik salah satu penerbit “The big four” dan menemukan pola pertumbuhan special issue yang serupa, lengkap dengan retraksi yang terkait manipulasi guest editor. Artinya tuduhan itu diterapkan secara selektif atau diframing. Tapi itu tidak membuat MDPI dan Frontiers bersih sepenuhnya. Model bayar-per-artikel dengan volume tinggi memang rapuh secara struktural. Kalau submission mengering atau perusahaan harus mengerem demi integritas, pendapatan anjlok dalam hitungan bulan. Penerbit berbasis langganan seperti Elsevier dan Springer-Nature tidak menghadapi guncangan secepat itu karena kontrak eksklusif nya dengan perpustakaan Universitas maupun lembaga penelitian bersifat multi tahun.

Jadi tiga pintu itu terbuka semua. Kapitulasi seperti Hindawi, bermitra seperti Bentham, atau mencari investor besar untuk bertahan sendiri. Ketiga langkah tersebut sepertinya masih dipertimbangkan secara serius oleh MDPI dan Frontiers.  Tebakan saya, dan ini murni pembacaan pribadi yang bisa saja meleset, pintu kedua yang paling mungkin diambil. Paling murah, paling tidak menyakitkan secara politis internal, dan tidak mengharuskan pendiri melepas kendali. Tapi pintu itu juga yang paling merugikan ekosistem penerbitan, karena mengalirkan lebih banyak lalu lintas ke platform yang sudah dominan.

Kenapa ini juga menjadi urusan kita di Indonesia?

Karena kita ada di ujung rantai yang paling tidak punya daya tawar. Kenaikan jabatan fungsional dosen, akreditasi program studi, dan penilaian kinerja riset di Indonesia sebagian besar bersandar pada indeksasi Scopus dan Web of Science. Basis data Scopus dimiliki Elsevier, dan Web of Science dimiliki Clarivate.

Jadi ketika Clarivate atau Elsevier mencabut indeksasi satu jurnal, artikel seorang dosen di Jakarta atau Makassar bisa kehilangan nilainya dalam semalam, tanpa ada yang salah dengan artikel itu sendiri. Wasit dan pemain berada di kolam yang sama, dan kita tidak duduk di meja perundingan sehingga sulit menegosiasikan term of condition ekosistem penerbitan jurnal.

Namun,  ada beberapa hal yang bisa dikerjakan tanpa menunggu siapa pun. Yaitu berhenti memakai indeksasi sebagai satu-satunya proksi mutu dalam penilaian internal kampus. Memperkuat infrastruktur penerbitan nasional yang sudah ada, dari SINTA sampai OJS di masing-masing kampus, supaya bukan sekadar formalitas. Menegosiasikan APC secara kolektif lewat konsorsium, bukan satu per satu lewat kantong dosen dan sisa dana hibah. Dan memberi ruang lebih besar untuk model diamond open access, yang tidak memungut biaya dari penulis maupun pembaca.

Pengungkapan: Tulisan ini dikembangkan menggunakan Claude Pro dari Anthropic untuk penyusunan kerangka dan alur pembahasan. Penulis bertanggung jawab penuh atas kebenaran, validitas, dan keseluruhan isi konten dalam tulisan ini.

Arli Aditya Parikesit; Profesor kekhususan Bioinformatika pada  i3L University, anggota Klaster Keilmuan Bioinformatika Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM), dan Managing Editor Indonesian Journal of Life Sciences (IJLS) dari i3L University. Penulis bisa di kontak pada akun X: @arli_ap