Pangkalpinang perkuat pemantauan pasokan sembako kendalikan inflasi - ANTARA News Bangka Belitung

Pangkalpinang (ANTARA) - Pemerintah Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memperkuat pemantauan dan distribusi berbagai komoditas bahan pangan pokok untuk mengendalikan inflasi.

"Pemantauan pasokan dan distribusi pangan diperkuat, terutama menjelang perayaan keagamaan dan tradisi lokal yang berpotensi meningkatkan permintaan masyarakat," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Pangkalpinang Juhaini di Pangkalpinang, Senin.

Menurut dia, langkah tersebut merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam menjaga ketersediaan komoditas sekaligus mengendalikan tekanan harga sehingga inflasi di Pangkalpinang tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.

Hal itu disampaikan Juhaini dalam Rapat Koordinasi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Triwulan II Tahun 2026 yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Ia menjelaskan, laju inflasi secara tahunan (year on year/YoY) sebesar 4,12 persen pada 2026 atau berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus satu persen.

Tekanan inflasi di Pangkalpinang terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 2,06 persen.

"Di Agustus kita ada banyak perayaan hari besar, seperti Maulid Nabi dan Sembahyang Rebut, ini yang mempengaruhi pasar di Pangkalpinang menjadi rujukan bagi daerah sekitar," ujarnya.

Meskipun sejumlah perayaan keagamaan dan tradisi tersebut berlangsung di kabupaten sekitar Pangkalpinang, masyarakat dari daerah penyangga banyak memenuhi kebutuhan belanja di pasar-pasar yang ada di ibu kota provinsi tersebut.

Kondisi itu meningkatkan permintaan terhadap sejumlah komoditas pangan sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan stok dan harga.

Kelompok pangan memberikan andil inflasi sebesar 0,84 persen, sedangkan angkutan udara memberikan andil 0,31 persen dan bensin sebesar 0,23 persen.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Pangkalpinang Rico Ari Putra mengatakan tekanan harga juga dipengaruhi peningkatan permintaan pada Juli 2026 yang bertepatan dengan awal tahun ajaran baru dan mulai beroperasinya sejumlah Satuan Pelaksana Pengawasan Pangan dan Gizi (SPPG).

"Puluhan SPPG yang mulai aktif bertepatan dengan masa tersebut turut mendorong peningkatan permintaan terhadap komoditas pokok seperti ayam dan bahan pangan lainnya," katanya.

Selanjutnya pada Agustus, kata dia, tradisi Sembahyang Rebut turut meningkatkan permintaan terhadap sejumlah bahan kebutuhan, seperti ayam, sayuran, dan perlengkapan upacara.

Selain itu, peringatan Maulid Nabi di Kabupaten Bangka juga ikut meningkatkan aktivitas belanja masyarakat dari wilayah sekitar di pasar-pasar Pangkalpinang, termasuk Pasar Ratu Tunggal dan Pasar Pagi.

"Permintaan yang biasanya hanya mencukupi kebutuhan warga kota kemudian meningkat karena adanya tambahan permintaan dari luar kota. Kondisi ini berpengaruh terhadap ketersediaan barang dan harga," ujarnya.

Pemerintah Kota Pangkalpinang menilai tekanan inflasi tersebut merupakan gabungan dari kenaikan harga energi dan transportasi serta peningkatan permintaan musiman yang diperkuat posisi Pangkalpinang sebagai pusat pemasok kebutuhan pangan bagi daerah sekitarnya.

Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta/Try Mustika
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.