Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai perpindahan konsumen Pertamax ke Pertalite akibat selisih harga di atas Rp5 ribu masih perlu menjadi perhatian pemerintah.
“Dengan harga masih Rp15.950, disparitas harga terhadap Pertalite itu kan cukup lebar. Disparitas yang terlalu menganga ini akan mendorong konsumen Pertamax, khususnya kelas menengah ke bawah, melakukan migrasi atau pindah ke Pertalite,” ujar Fahmy ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.
Fahmy menyampaikan penurunan harga Pertamax dari Rp16.250 per liter ke Rp15.950 per liter masih menyisakan selisih harga yang cukup lebar terhadap Pertalite.
Oleh karena itu, ia menilai penurunan harga belum cukup untuk mencegah konsumen bermigrasi ke Pertalite.
Baca juga: Prabowo perintahkan harga BBM subsidi tidak dinaikkan
“Kalau benar terjadi perpindahan, ini akan memperberat beban subsidi untuk Pertalite. Kuotanya barangkali juga tidak memenuhi, harus ditambah,” kata Fahmy.
PT Pertamina (Persero) mengumumkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax turun dari Rp16.250 pada Juli, menjadi Rp15.950 per liter mulai 1 Agustus.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyampaikan penurunan harga BBM nonsubsidi dilakukan mengikuti ketentuan dan arahan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta tetap memperhatikan daya beli masyarakat.
Selain Pertamax, harga BBM nonsubsidi jenis bensin lainnya juga mengalami penurunan harga dengan Pertamax Turbo turun dari Rp19.300 per liter menjadi Rp18.300 per liter, kemudian Pertamax Green 95 turun dari Rp17.000 per liter menjadi Rp16.600 per liter.
Baca juga: Wamen ESDM tinjau langsung pengalaman pengguna B50 di Tapanuli Selatan
Sementara itu, Pertamina Dex tetap di harga Rp21.150 per liter dan Dexlite tetap di harga Rp19.700 per liter.
Harga tersebut berlaku untuk wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen, seperti DKI Jakarta.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.