Petani Kota Jambi tunda masa tanam sawah tadah hujan karena pasokan air tiada - ANTARA News Jambi

Kota Jambi (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Jambi menyebut musim kemarau yang melanda wilayah Jambi memicu penundaan masa tanam di sejumlah sawah tadah hujan setempat akibat berkurang ketersediaan air.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPKP Kota Jambi Amiruddin di Jambi, Rabu, mengatakan lahan persawahan di kota itu sebagian besar merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan sebagai sumber utama pengairan.

Kebutuhan air sawah saat musim hujan dapat terpenuhi secara alami, kata dia, sedangkan petani ketika musim kemarau harus memanfaatkan air dari sungai maupun saluran air di sekitar lahan untuk mengairi tanaman.

"Kondisi sawah di setiap lokasi tidak sama," katanya.

Lahan yang berada di kawasan cekungan masih memiliki genangan air sehingga tetap dapat ditanami, sementara sawah yang mulai mengering menyebabkan petani menunda masa tanam hingga ketersediaan air kembali mencukupi.

Amirudin menyebutkan luas lahan sawah yang dilindungi (LSD) di Kota Jambi mencapai 459 hektare, sedangkan total luas sawah sekitar 520 hektare.

Pemerintah kota tersebut menargetkan realisasi luas tanam padi mencapai 538 hektare pada 2026.

Realisasi luas tanam hingga awal Agustus 2026, telah mencapai 443 hektare atau sekitar 82 persen dari target, masih terdapat sekitar 96 hektare yang diharapkan dapat ditanami dalam waktu dekat.

"Kami tetap optimistis target luas tanam tahun ini dapat tercapai meski menghadapi musim kemarau dan musim saat ini juga mulai memengaruhi komoditas hortikultura," kata dia.

Berdasarkan hasil pemantauan DPKP di lapangan, sekitar 60 persen tanaman hortikultura, terutama sayuran dan buah-buahan, terdampak akibat berkurang ketersediaan air.

"Kami mengimbau petani memanfaatkan sumber air secara efisien," kata Amiruddin.

Pewarta: Agus Suprayitno/Melli Andani
Editor : Siri Antoni

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.