CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 23:30 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --
Media sosial kembali diramaikan dengan tren perawatan area intim perempuan. Kali ini, perhatian warganet tertuju pada prosedur cuci vagina atau vaginal douching yang diklaim dapat membuat organ intim lebih bersih dan sehat.
Tak sedikit klinik kecantikan maupun layanan perawatan yang menawarkan prosedur tersebut. Namun, benarkah cuci vagina aman dilakukan? Apakah ada manfaatnya bagi kesehatan reproduksi perempuan?
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika yang berpraktik di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Rumah Sakit Premier Jatinegara, dan Jakarta Skin Center, Agassi Suseno Sutarjo justru mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengikuti tren tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, vagina memiliki mekanisme alami untuk menjaga kebersihan dan keseimbangan lingkungannya sendiri.
"Sebisa mungkin memang tidak dilakukan," kata Agassi saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Agassi menjelaskan bahwa di dalam vagina terdapat berbagai jenis bakteri yang hidup secara alami. Sebagian merupakan bakteri baik yang berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem vagina dan melindunginya dari infeksi.
Saat seseorang melakukan pembersihan hingga ke bagian dalam vagina atau vaginal douching, keseimbangan tersebut dapat terganggu.
"Di situ ada banyak sekali bakteri. Ada bakteri baik dan ada bakteri yang berpotensi menyebabkan penyakit. Semuanya sudah berada dalam keseimbangan tersendiri," ujarnya.
Jika keseimbangan flora normal itu rusak, bakteri jahat berpeluang berkembang lebih banyak. Kondisi tersebut dapat memicu disbiosis, yaitu ketidakseimbangan mikrobiota yang meningkatkan risiko infeksi hingga keluhan pada organ intim.
Pilihan Redaksi
- Miss V Bau Tak Sedap Sebenarnya Wajar, Tapi Kapan Harus Waspada?
- Ini Penyebab dan Gejala Disfungsi Dasar Panggul yang Bikin Susah BAB
- Hati-hati, 7 Kebiasaan Sehari-hari Ini Berisiko Picu Kanker
Cukup bersihkan bagian luar
Alih-alih membersihkan bagian dalam vagina, Agassi menyarankan perempuan cukup menjaga kebersihan area luar organ intim. Menurutnya, tidak perlu berusaha membuat bagian dalam vagina menjadi benar-benar bersih karena organ tersebut memiliki kemampuan membersihkan dirinya sendiri melalui cairan alami.
"Cukup membersihkan bagian luar saja. Tidak perlu sampai memasukkan cairan atau alat ke dalam vagina," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa anjuran tersebut berlaku untuk semua perempuan, baik yang sudah menikah maupun belum menikah. Status pernikahan, kata dia, tidak memengaruhi risiko terganggunya flora normal vagina akibat proses pencucian bagian dalam.
Dalam kesempatan itu, Agassi mengatakan prosedur pembersihan vagina dari dalam sebenarnya sangat jarang dilakukan dalam praktik medis sehari-hari. Kalaupun tindakan tersebut dilakukan, biasanya karena ada indikasi tertentu yang ditemukan dokter saat pemeriksaan.
Misalnya, terdapat kondisi medis yang memang membutuhkan tindakan khusus sehingga manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya. Namun, melakukan cuci vagina atas keinginan sendiri atau sekadar mengikuti tren di media sosial tidak dianjurkan.
"Kalau memang dokter yang memeriksa menilai ada indikasi medis, tentu ada pertimbangan khusus. Tapi kalau dilakukan sendiri, memang tidak disarankan," katanya.
Disbiosis bisa sulit diatasi
Salah satu alasan dokter tidak menganjurkan vaginal douching adalah karena disbiosis tidak selalu mudah diobati. Ketika bakteri baik di vagina berkurang, tubuh membutuhkan waktu untuk mengembalikan keseimbangan mikrobiota tersebut.
Dalam beberapa kasus, pasien bahkan memerlukan terapi tambahan, seperti probiotik atau postbiotik, untuk membantu memulihkan flora normal.
"Untuk mengumpulkan kembali bakteri baik itu tidak mudah. Makanya sebaiknya jangan sampai keseimbangannya terganggu," ujar Agassi.
[Gambas:Video CNN]
Ia menambahkan, mikrobioma tubuh sangat kompleks karena dipengaruhi banyak faktor, termasuk perpindahan bakteri dari area tubuh lain seperti usus. Tak hanya prosedur cuci vagina, penggunaan sabun atau cairan pembersih area kewanitaan juga perlu dilakukan secara bijak.
Menurut Agassi, produk pembersih masih boleh digunakan selama hanya diaplikasikan pada bagian luar dan tidak digunakan secara berlebihan. Tujuannya bukan membuat vagina menjadi steril, melainkan menjaga kebersihan area luar dari kotoran, keringat, atau sisa cairan.
"Yang penting area luarnya bersih. Tidak perlu sampai membersihkan bagian dalam karena memang tidak perlu dibuat benar-benar bersih," katanya.
Mengapa bisa muncul kerak setelah cuci vagina?
Belakangan, media sosial juga diwarnai pengakuan sejumlah pengguna yang mengaku mengalami kondisi seperti kulit berkerak setelah menjalani prosedur cuci vagina. Menanggapi hal tersebut, Agassi mengatakan dirinya tidak dapat memastikan penyebabnya tanpa melihat kondisi pasien secara langsung.
Namun, bila kerak muncul pada kulit bagian luar organ intim, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah iritasi akibat penggunaan bahan atau cairan yang terlalu keras.
"Kalau yang dimaksud kulit bagian luarnya menjadi berkerak, kemungkinan bisa karena iritasi. Akibatnya kulit menjadi kering, bersisik, lalu tampak seperti berkerak," jelasnya.
Ia menerangkan bahwa kulit di area genital berbeda dengan kulit pada bagian tubuh lain karena merupakan area peralihan menuju selaput lendir yang secara alami lebih lembap dan sensitif. Karena itu, penggunaan bahan yang terlalu iritatif justru dapat merusak lapisan pelindung kulit, menyebabkan kekeringan, hingga memicu gangguan keseimbangan kulit di area tersebut.
Atas alasan tersebut, Agassi mengimbau masyarakat tidak mudah tergiur tren perawatan organ intim yang beredar di media sosial tanpa dasar medis yang jelas. Menjaga kebersihan area luar, menggunakan produk seperlunya, dan berkonsultasi dengan dokter bila muncul keluhan tetap menjadi cara paling aman untuk merawat kesehatan vagina.
(tim/tis)