Melalui program tersebut, PGN memberikan kesempatan bagi pengemudi taksi online (taksol) untuk mengonversi kendaraan dari bahan bakar konvensional menjadi BBG melalui pemasangan kit BBG secara gratis. Inisiatif ini diharapkan menjadi alternatif energi yang lebih efisien sekaligus membantu pengemudi menekan biaya operasional kendaraan.
Baca Juga: PGN Kenalkan Ekosistem Green Economic Life di Sleman melalui Suadesa Festival 2026
Program konversi ini juga menjadi bagian dari komitmen PGN memperluas pemanfaatan gas bumi di sektor transportasi. Penggunaan BBG turut menjadi pilihan energi yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan dukungan PGN terhadap target Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.
“PGN terus mendorong pemanfaatan gas bumi di berbagai sektor, termasuk transportasi. Melalui program konversi BBG ini, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal dan memanfaatkan gas bumi sebagai alternatif energi yang efisien dan lebih ramah lingkungan,” ujar Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman.
Selama periode Agustus–September 2026, sebanyak 75 kendaraan ditargetkan mengikuti program konversi. Fajriyah berharap program tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi penerima sekaligus mendorong pemanfaatan BBG yang lebih luas.
“Ke depan, kami berharap semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaat gas bumi sebagai energi alternatif. Sinergi bersama berbagai pihak, termasuk komunitas, penting untuk membangun ekosistem yang kuat dan mendorong pemanfaatan BBG secara lebih luas,” kata Fajriyah.
Program Bantuan Konversi BBG Kendaraan Tahun 2026 juga diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi para penerima bantuan. Dengan asumsi 75 kendaraan penerima mengonsumsi rata-rata 8 liter setara bensin (LSP) BBG per hari setiap bulan, total pemanfaatan BBG diperkirakan mencapai sekitar 15.000 LSP per bulan atau 180.000 LSP dalam setahun.
Dengan harga BBG nonsubsidi sebesar Rp4.500 per liter, kebutuhan bahan bakar tersebut menelan biaya sekitar Rp810 juta per tahun. Sementara itu, apabila volume penggunaan yang sama menggunakan BBM subsidi dengan asumsi harga Rp10.000 per liter, biaya bahan bakar dapat mencapai sekitar Rp1,8 miliar per tahun.
Dengan demikian, pemanfaatan BBG berpotensi menghasilkan penghematan biaya bahan bakar minimal sekitar Rp990 juta per tahun bagi 75 penerima manfaat secara keseluruhan.
Selain memberikan penghematan biaya operasional, penggunaan BBG juga berpotensi memberikan manfaat bagi lingkungan. Dengan penggunaan energi yang setara, BBG menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) sekitar 19% lebih rendah dibandingkan bensin subsidi.
Berdasarkan proyeksi penggunaan BBG hingga sekitar 180.000 LSP per tahun oleh 75 penerima manfaat, program konversi ini diperkirakan dapat mengurangi emisi karbon hingga sekitar 73 ton CO₂ eq per tahun.
Dengan demikian, peralihan dari bahan bakar minyak ke BBG tidak hanya membantu pengemudi menekan biaya operasional, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mendukung penggunaan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Sebagai anak usaha PGN yang bergerak dalam pengembangan dan penyediaan solusi energi gas, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) turut mendukung program melalui dukungan teknis dalam proses konversi serta penguatan layanan bagi pengguna kendaraan BBG.
Sebagai anak usaha PGN yang bergerak dalam pengembangan dan penyediaan solusi energi gas, Gagas turut mendukung program melalui dukungan teknis dalam proses konversi serta penguatan layanan bagi pengguna kendaraan BBG.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat ekonomi dan lingkungan dari penggunaan BBG dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh para pengguna.
Direktur Utama Gagas, Santiaji Gunawan, mengatakan bahwa pengembangan ekosistem kendaraan BBG tidak hanya berhenti pada proses konversi kendaraan. Kesiapan layanan, aspek keselamatan, serta pendampingan kepada pengguna juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan BBG.
“Program konversi ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk merasakan manfaat BBG, baik dari sisi efisiensi maupun penggunaan energi yang lebih bersih. Namun, agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan, kami juga perlu memastikan adanya dukungan teknis, standar keselamatan, serta layanan yang memadai bagi para pengguna,” ungkap Santiaji.
Menurutnya, pemanfaatan gas bumi di sektor transportasi masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi energi.
Karena itu, PGN Gagas terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan solusi energi gas yang tidak hanya menjawab kebutuhan masyarakat, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem kendaraan BBG.
“Tidak hanya mendukung proses konversi, kami juga ingin memastikan para pengguna mendapatkan layanan purnajual yang memadai. Ketersediaan perawatan dan servis menjadi bagian penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap BBG sebagai alternatif energi di sektor transportasi,” jelasnya.
Penanggung jawab Administrasi Lapangan Komunitas Mobil Gas (Komogas), Riko, mengapresiasi dukungan PGN yang dinilainya memberikan manfaat besar bagi pengemudi taksi online dengan intensitas penggunaan kendaraan dan konsumsi bahan bakar tinggi.
“Bantuan konversi kit BBG secara gratis ini sangat berarti bagi para pengemudi online. Biaya pemasangan konverter secara mandiri cukup besar, sehingga program ini membuka kesempatan untuk beralih menggunakan BBG dengan lebih mudah,” ujarnya.
Menurut Riko, manfaat yang paling dirasakan dari konversi adalah efisiensi biaya bahan bakar. Selain harganya lebih kompetitif, BBG menghasilkan pembakaran yang lebih bersih sehingga diharapkan turut mendukung kinerja dan perawatan mesin dalam jangka panjang.
“Keuntungan yang paling dirasakan tentu dari sisi ekonomi karena terdapat selisih biaya yang cukup besar antara penggunaan BBM dan BBG. Selain itu, pembakaran dengan BBG lebih bersih, sehingga dapat memberikan manfaat bagi penggunaan dan perawatan mesin,” tukas Riko.