PLTS 100 GWp Mulai Jalan, Ini Perkembangan Rantai Pasok di Dalam Negeri - Energi Baru Katadata.co.id

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan saat ini terdapat 14 proyek yang masuk dalam program PLTS 100 GWp. Sebagian proyek tersebut sudah memasuki tahap konstruksi, groundbreaking, maupun siap tender.

Namun, Eniya mengkhawatirkan kesiapan rantai pasok dalam negeri untuk menopang pembangunan proyek-proyek tersebut. 

“Sekarang yang agak saya khawatirkan adalah ekosistemnya. Begitu bicara pemasangan PLTS, tiang listriknya berapa? Pipanya tersedia enggak di sini? Struktur mounting-nya? Base-nya kita masih on going,” kata Eniya dalam diskusi “Powering Industrial Decarbonization: Scaling Solar for a Competitive Indonesia” di Katadata SAFE 2026, Kamis (17/9).

Dia mengatakan kesiapan ekosistem tersebut penting karena ketersediaan komponen akan menentukan kecepatan pembangunan PLTS. Jangan sampai proyek yang sudah siap berjalan justru tertunda karena kebutuhan komponennya tidak terpenuhi sesuai jadwal.

“Jangan sampai kalau sudah seperti ini ya, PLTS atap sudah apply, nanti minta delay karena janjinya tiga bulan enggak terpenuhi, minta enam bulan. Padahal kita harus realisasikan ini secepat mungkin,” ujarnya.

Perkembangan Rantai Pasok Domestik PLTS

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari mengatakan asosiasi terus mendorong penguatan rantai pasok PLTS di dalam negeri. Menurut dia, saat ini sudah banyak investasi dan produk komponen PLTS yang ingin masuk ke Indonesia.

Namun, kualitas produk tetap perlu dipastikan. “Harus yang tier satu. Kalau mau masuk, gandeng lokal yang sudah ada, sehingga ter-improve produk-produknya,” ujar Mada.

Dia mengatakan AESI telah berdiskusi dengan asosiasi industri baja untuk mempercepat penyediaan sejumlah komponen PLTS, seperti mounting atau dudukan dan tiang.

Persoalan lain adalah logistik, terutama karena proyek PLTS akan dibangun di berbagai daerah. Untuk itu, AESI juga menjalin komunikasi dengan asosiasi logistik, khususnya terkait transportasi.

Bersamaan dengan itu, AESI menyiapkan titik-titik service center di lokasi pembangunan PLTS untuk mendukung operasional dan perawatan proyek.

“Kalau tidak ada supply chain yang kuat di lapangan dalam bentuk service center, maka yang dikhawatirkan setiap ada troubleshooting mereka harus menunggu produk datang dari Jawa,” ucapnya.

Di tingkat subnasional, AESI juga memberikan edukasi dan pelatihan untuk menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan di bidang listrik hijau, khususnya energi surya.

Mada mengatakan pengembangan industri PLTS dalam negeri juga membutuhkan skema bisnis yang tepat agar rantai pasok dan kapasitas industri dapat tumbuh seiring dengan peningkatan permintaan.