Singkawang (ANTARA) - Polres Singkawang, Polda Kalbar mendorong peran orang tua dalam memperkuat pencegahan penyebaran paham ekstremisme dan radikalisme di kalangan pelajar karena pengawasan keluarga merupakan benteng pertama pembentukan karakter anak.
Hal tersebut disampaikan Kasat Binmas Polres Singkawang IPTU Budi Anggoro pada sosialisasi bertema “ Sinergi Keluarga, Sekolah dan Masyarakat dalam Pencegahan Ekstremisme dan Radikalisme di Kalangan Pelajar” yang diselenggarakan dalam Gerakan Singkawang Hebat-Menuju Perubahan (GSH-MP) di Ruang Bumi Betuah Kantor Wali Kota Singkawang, Rabu.
Budi mengatakan bibit perilaku ekstrem tidak selalu muncul dalam bentuk aksi radikalisme secara langsung, tetapi dapat berawal dari tindakan sehari-hari seperti perundungan, dukungan media sosial, hingga tawuran antarpelajar yang tidak ditangani sejak dini.
“Perilaku ekstrem itu bisa dimulai dari tindakan sederhana seperti perundungan,” katanya.
Menurut dia, jajaran Polres Singkawang selama ini secara rutin melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada pelajar di tingkat SD, SMP, hingga SMA sebagai bagian dari upaya pencegahan kenakalan remaja sekaligus menangkal masuknya paham yang berbeda dengan nilai kebencian.
Namun, ia menilai upaya tersebut perlu dilakukan dengan menyasar para orang tua karena berbagai persoalan yang melibatkan pelajar justru lebih banyak terjadi di luar lingkungan sekolah.
“Kami ingin dari pihak kepolisian dapat memberikan sosialisasi secara langsung kepada para orang tua siswa. Sebab, banyak permasalahan yang justru terjadi di luar lingkungan sekolah,” ujarnya.
Ia menyoroti masih rendahnya pengawasan sebagian orang tua terhadap aktivitas anak, baik saat berada di luar rumah maupun ketika menggunakan gawai dan media sosial.
“Anak belum pulang hingga pukul 23.00 WIB, orang tua tidak bertanya, tidak khawatir. Ini bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga tentang masa depan anak,” katanya.
Menurut Budi, sejumlah kasus seperti balap liar, tawuran, hingga kecanduan permainan berani menunjukkan pentingnya keterlibatan keluarga dalam membangun disiplin dan karakter anak sejak dini.
Oleh karena itu, Polres Singkawang berharap Dinas Pendidikan bersama seluruh satuan pendidikan dapat memfasilitasi pertemuan antara kepolisian dengan orang tua siswa agar edukasi mengenai pencegahan kenakalan remaja, ekstremisme, dan radikalisme dapat diberikan secara langsung.
“Jika sasarannya langsung ke orang tua, saya rasa sosialisasi ini akan lebih tepat sasaran dibandingkan hanya kepada siswa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Heri Sutrisna mengatakan kegiatan tersebut diadakan untuk memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan aparat penegak hukum dalam mengantisipasi munculnya perilaku yang mengarah pada ekstremisme dan radikalisme di kalangan pelajar.
Ia mengatakan meski belum ditemukan kasus ekstremisme maupun radikalisme di lingkungan pelajar Kota Singkawang, sejumlah gejala seperti perundungan dan tawuran perlu diantisipasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
“Melalui sinergi ini diharapkan terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mampu membentuk generasi muda Singkawang yang berkarakter, toleran, serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat,” ujarnya.
Pewarta: Narwati
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.