Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto memerintahkan untuk membuat sumur bor di setiap titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau untuk mencegahnya berkembang menjadi titik api.
Dalam rapat penanganan karhutla di Pekanbaru, Riau, Senin, Presiden menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan sejak dini dengan tidak menunggu hotspot berubah menjadi kebakaran.
"Jangan nunggu sampai jadi titik api. Tolong masuk ke titik hotspot itu. Segera saja masuk, ambil tindakan dini. Di tempat-tempat itu bisa dibikin bor air?," kata Prabowo dipantau secara daring melalui siaran Sekretariat Presiden di Jakarta, Senin.
Ia meminta 306 hotspot yang terdeteksi di Riau segera ditindaklanjuti dengan pembuatan sumur bor.
"Saya kira segera saja di 300 titik langsung bikin bor air. Begitu ada hotspot bikin bor air di situ. Jangan tunggu titik api," katanya.
Menurut Prabowo, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan agar kebakaran tidak meluas.
Selain sumur bor, ia meminta pemerintah dan aparat menyiapkan berbagai langkah pengendalian, seperti sekat kanal dan embung.
"Begitu hotspot, lakukan pencegahan. Sekat, embung, bor. OMC (operasi modifikasi cuaca) diupayakan terus. Helikopter water bombing stanby," ucap Presiden.
Dalam rapat tersebut, BPBD Riau melaporkan terdapat 306 hotspot di wilayah Riau per 23 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, tujuh titik telah menjadi titik terbakar yang tersebut di empat kabupaten.
Sementara itu, luas lahan yang terbakar di Riau sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 16.277,50 hektare. Dari total tersebut, saat ini tersisa sekitar 900 hektare yang masih terbakar di tujuh titik.
Presiden meminta penanganan terhadap sisa 900 hektare tersebut segera dituntaskan dan menginstruksikan pengerahan kekuatan TNI dan Polri.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Prabowo perintahkan pembuatan sumur bor di setiap "hotspot" karhutla
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.