Senin, 3 Agustus 2026 - 22:50 WIB
Jakarta, VIVA – Berangkat dari keprihatinan pada susahnya para anak murid SMK-nya mencari kerja, Wakil Ketua Departemen Pengembangan UMKM Koperasi dan Wirausaha Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Risma Sitorus akhirnya memasukkan mata pelajaran kewirausahaan ke kurikulum sekolah.
Baca Juga
Sosok wanita yang baru saja memasuki masa pensiun dari Kepala Sekolah SMK Citra Nusantara itu menjelaskan, tujuan dari mata pelajaran kewirausahaan itu adalah untuk menjadikan anak-anak didiknya memiliki keahlian dan bisa membuka usaha setelah mereka menyelesaikan pendidikannya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia memaparkan, bahan yang dipergunakan sebagai alat ajar adalah hasil bumi yang mudah didapatkan. Seperti, kayu, bambu, rotan, maupun purun.
Baca Juga
"Kami memberikan pengajaran dan pendampingan sejak mereka bersekolah selama 3 tahun. Harapanya, begitu mereka lulus, mereka bisa menggunakan keahlian itu, bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi bisa membuka peluang kerja bagi orang lain," kata Risma saat bertemu awak media, Senin 3 Agustus 2026.
Wakil Ketua Departemen Pengembangan UMKM Koperasi dan Wirausaha Asprindo, Risma Sitorus
Photo :
- Istimewa
Baca Juga
Ia pun tak menampik, harapan lainnya adalah memastikan para orang tua bangga dan tak ragu akan kemampuan anaknya, usai lulus sekolah.
Risma mengungkapkan, dalam perjalanannya membangun keterampilan anak-anak didiknya, tantangan utamanya adalah membangun keyakinan para anak didik, bahwa apa yang mereka lakukan bisa memberikan manfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitar.
"Kami selalu memupuk keyakinan anak-anak, bahwa UMKM atau wirausaha itu punya masa depan. Kita tahu, Gen Z itu kan maunya sedikit bekerja tapi banyak dapat uang. Nah, kami berusaha mencari usaha apa yang kira-kira diminati oleh para Gen Z ini," ungkapnya.
Tak hanya melatih dalam pembuatan produk, Risma menyatakan, pihaknya juga membantu untuk memasarkan produk hasil karya anak didiknya ini.
"Produk yang dihasilkan itu tidak hanya kerajinan tangan. Ada juga kuliner. Jadi, kami bukan hanya bicara mengenai model produk, tapi juga membantu dalam proses desain kemasan. Yang menarik, unik, dan diminati pasar," katanya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menyampaikan, saat awal membangun usaha ini, Asprindo sangat mendukung dengan memberikan pendampingan. Salah satunya pelatihan rumput laut di daerah Keronjo.
"Waktu itu, pelatihannya terkait pengolahan mangrove. Kami menjadikan mangrove sebagai bahan baku kuliner. Pak Ketum Jose pun sempat beberapa kali berkunjung ke galeri kami," kata Risma.
Halaman Selanjutnya
Selain berkunjung dan memberikan pendampingan, Asprindo pun memberikan saran dan pelung untuk mengikuti berbagai pameran, sebagai salah satu bentuk promosi produk.