Pulihkan Trauma akibat Bullying, Ini Langkah untuk Bangkit dan Kembali Percaya Diri

AKURAT.CO Bullying atau perundungan dapat meninggalkan luka psikologis yang tidak selalu terlihat. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, hingga aktivitas sehari-hari korban.

Pada sebagian orang, dampaknya bahkan dapat bertahan dalam jangka panjang. Korban bullying dapat mengalami kecemasan, depresi, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga gejala trauma.

Karena itu, proses pemulihan membutuhkan waktu, dukungan dari lingkungan sekitar, dan pada kondisi tertentu bantuan dari tenaga profesional.

Memahami Dampak Trauma akibat Bullying

Bullying bukan sekadar konflik atau candaan antara individu. Perundungan yang terjadi secara berulang dapat memberikan tekanan psikologis yang serius, terutama ketika korban merasa tidak memiliki kemampuan untuk menghentikannya.

Dampak yang muncul dapat berupa rasa takut, kehilangan kepercayaan diri, menarik diri dari lingkungan sosial, serta munculnya pandangan negatif terhadap diri sendiri.

Sebagian korban juga dapat mengalami perubahan pola tidur dan makan, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, hingga mengalami penurunan prestasi di sekolah maupun pekerjaan.

Dampak tersebut berbeda pada setiap orang. Karena itu, kondisi korban perlu dilihat secara individual dan tidak dibandingkan dengan pengalaman orang lain.

Kenali Tanda-Tanda Trauma

Mengenali perubahan perilaku menjadi salah satu langkah penting untuk membantu korban. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  • Mengalami ingatan atau pikiran yang mengganggu terkait pengalaman bullying.

  • Menghindari tempat, orang, atau situasi yang mengingatkan pada pengalaman tersebut.

  • Mengalami perubahan suasana hati dan mudah merasa cemas atau tersinggung.

  • Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.

  • Mengalami kesulitan berkonsentrasi.

  • Menarik diri dari keluarga, teman, atau lingkungan sosial.

Jika gejala tersebut menetap, semakin berat, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, korban sebaiknya mendapatkan bantuan dari psikolog atau psikiater.

Langkah Memulihkan Diri dari Trauma Bullying

Mencari Bantuan Profesional

Psikolog atau psikiater dapat membantu korban memahami pengalaman yang dialami dan menentukan pendekatan yang sesuai.

Terapi psikologis, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), dapat digunakan untuk membantu seseorang mengenali pola pikir dan perilaku yang berkaitan dengan pengalaman traumatis.

Pada kondisi tertentu, tenaga profesional juga dapat menggunakan pendekatan terapi lain sesuai kebutuhan pasien.

Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua orang. Karena itu, proses penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan gejala.

Membangun Dukungan Sosial

Dukungan dari keluarga, teman, atau orang yang dipercaya dapat membantu korban melewati proses pemulihan.

Korban tidak harus menceritakan seluruh pengalamannya sekaligus. Berbagi secara perlahan kepada orang yang dianggap aman dapat membantu mengurangi perasaan terisolasi.

Lingkungan juga memiliki peran penting. Korban perlu mendapatkan ruang untuk didengarkan tanpa disalahkan atau dianggap berlebihan.

Baca Juga: Cyberbullying di Dunia Digital: Kenali Bentuk, Dampak, dan Cara Mengatasinya