Purbaya: Sumber Utama Dana PFII dari Danantara, APBN untuk Jaga-jaga - Makro Katadata.co.id

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, dana dari Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan investor menjadi sumber utama pendanaan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).

Bendahara negara menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukan menjadi sumber utama pendanaan pusat finansial tersebut.

Purbaya menyebut investor akan mengeluarkan dana awal untuk membangun PFII. Selain itu, Danantara akan menyuntikkan dana pengembangan PFII.

“Enggak semuanya APBN. Investor yang akan mengeluarkan dana pertama untuk membangun di sana. Danantara cukup besar uangnya, bukan APBN,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).

 Pemerintah menyiapkan APBN, menurut Purbaya, sebagai langkah antisipasi apabila PFII mengalami kekurangan dana untuk kebutuhan tertentu. Salah satunya untuk menutup kebutuhan pembayaran gaji hakim dalam jangka waktu tertentu.

“Tapi in case mereka kekurangan uang untuk membayar gaji-gajinya bisa ditutup oleh APBN untuk sementara dalam jangka waktu tertentu. Jadi enggak semuanya APBN, terus jadi special case,” kata dia.

Dukungan APBN tersebut bukan merupakan sumber pendanaan utama PFII. Ia memperkirakan kebutuhan APBN tidak akan besar karena dana yang disiapkan Danantara menurutnya sudah lebih dari cukup.

“Untuk pendanaan pertama, iya. Tapi saya antisipasi enggak besar-besar amat, karena yang digelontarkan oleh Danantara menurut saya sih lebih dari cukup. Ini kan untuk jaga-jaga aja,” kata Purbaya.

Purbaya juga menargetkan PFII dapat mulai beroperasi 2026. Pemerintah masih menyiapkan sejumlah aturan pelaksana dan diharapkan regulasi tersebut dapat rampung dalam waktu enam bulan.

Percepatan operasional PFII diperlukan seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kebutuhan terhadap keberadaan pusat finansial.

“Kita harapkan peraturan pelaksana enam bulan. Operasinya kita harap secepatnya. Kita bisa usahakan tahun ini. Kenapa? Karena ini kan uncertainty-nya lebih tinggi. Di situlah demand untuk pusat finansial meningkat,” kata Purbaya.