TNI lahir dari sejarah perjuangan bangsa. Dari mempertahankan kemerdekaan, menghadapi berbagai ancaman, hingga memasuki era demokrasi dan revolusi teknologi, TNI terus mengalami transformasi.
Karena itu, profesionalisme TNI tidak dapat dipahami sebagai konsep yang berhenti pada satu definisi. Profesionalisme harus terus berkembang mengikuti perubahan karakter ancaman, teknologi, lingkungan strategis, dan kebutuhan pertahanan negara.
Dalam konteks ini, pemikiran Alfred Stepan mengenai old professionalism dan new professionalism relevan untuk dijadikan perspektif.
Stepan menunjukkan bahwa profesionalisme militer dapat berkembang seiring perubahan persepsi terhadap ancaman dan misi pertahanan.
Old professionalism terutama menempatkan keahlian militer dan pertahanan terhadap ancaman eksternal sebagai orientasi utama, sedangkan new professionalism memperluas cakupan kompetensi militer seiring semakin kompleksnya tantangan keamanan dan pembangunan.
Bagi Indonesia, perspektif tersebut dapat dibaca secara konstruktif. Evolusi profesionalisme TNI bukan berarti meninggalkan fondasi yang telah dibangun selama puluhan tahun, tetapi menyempurnakannya agar tetap relevan dengan tuntutan zaman.
Profesionalisme yang Berevolusi
Profesionalisme TNI telah memiliki fondasi yang kuat: disiplin, loyalitas, kepemimpinan, kemampuan tempur, hierarki komando, jiwa korsa, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Nilai-nilai tersebut tetap menjadi kekuatan utama. Yang berubah adalah spektrum kompetensi yang dibutuhkan.
Jika pada masa lalu kemampuan menghadapi perang konvensional menjadi ukuran penting profesionalisme militer, maka prajurit masa kini menghadapi spektrum ancaman yang jauh lebih luas.
Konflik modern dapat berlangsung secara simultan di darat, laut, udara, siber, ruang elektromagnetik, ruang angkasa, dan ruang informasi.
Ancaman juga semakin bersifat hybrid, menggabungkan instrumen militer dengan teknologi, informasi, ekonomi, dan instrumen nonmiliter.
Karena itu, prajurit profesional masa depan bukan hanya prajurit yang mampu bertempur, tetapi juga mampu memahami perubahan lingkungan strategis.
Perwira harus memahami geopolitik, geostrategi, teknologi, ekonomi pertahanan, diplomasi, kecerdasan buatan, keamanan siber, ruang angkasa, energi, perubahan iklim, dan dinamika sosial.
Bukan berarti TNI mengambil alih fungsi institusi lain. Sebaliknya, pemahaman lintas disiplin diperlukan agar TNI dapat menjalankan fungsi pertahanan secara semakin profesional dan tepat dalam lingkungan strategis yang kompleks.
Baca Juga: HUT ke-81 TNI Jadi Momentum Evaluasi, 5 Hal Ini Jadi Sorotan