Rektor Untag Surabaya jadikan nilai Sunan Gunung Jati sebagai pijakan kampus - ANTARA News Jawa Timur

Surabaya (ANTARA) - Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Dr. Harjo Seputro menjadikan nilai-nilai kepemimpinan Sunan Gunung Jati sebagai pijakan kampus dalam menghadapi transformasi menuju 2026 yang tetap berlandaskan karakter, amanah, dan kepedulian sosial.

"Menatap tahun 2026 tidak cukup hanya dengan menyiapkan strategi menghadapi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transformasi digital, dan persaingan global. Ada nilai-nilai yang juga perlu terus dijaga agar kemajuan tidak kehilangan arah," kata Harjo dalam refleksinya usai mengunjungi kawasan Sunan Gunung Jati di Cirebon seperti keterangan, Sabtu.

Kunjungan tersebut diikuti Wakil Rektor I Untag Surabaya Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog, dan Wakil Rektor II Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA.

Menurut Harjo, perjalanan itu bukan sekadar ziarah, melainkan ruang refleksi untuk memaknai kembali kepemimpinan dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan global.

Ia menilai warisan terbesar Sunan Gunung Jati bukan terletak pada bangunan maupun kekuasaan, melainkan keteladanan membangun peradaban melalui pendidikan, dakwah, serta pengabdian yang dilandasi niat baik.

Nilai tersebut dinilai tetap relevan bagi perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul.

Harjo mengatakan transformasi digital merupakan keniscayaan. Namun, perguruan tinggi tidak cukup menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi, melainkan juga memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Ia juga mengangkat petuah Sunan Gunung Jati, "Ingsun titip tajug lan fakir miskin", sebagai pengingat bahwa kampus harus menjaga rumah ilmu sekaligus berpihak kepada masyarakat.

Nilai itu diwujudkan melalui penguatan akademik, penelitian, pembentukan karakter mahasiswa, serta pengelolaan administrasi, keuangan, dan sarana prasarana secara transparan dan akuntabel.

Selain itu, Harjo menilai keterbukaan terhadap dunia tidak harus menghilangkan jati diri bangsa. Karena itu, penguatan kolaborasi internasional dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) perlu tetap berpijak pada semangat patriotisme, kebangsaan, dan kepedulian sosial.

Ia berharap Untag Surabaya menjadi "pelabuhan ilmu" yang terbuka terhadap berbagai gagasan dari dunia internasional, namun tetap menghasilkan lulusan yang mengabdikan ilmu bagi kemaslahatan masyarakat serta kemajuan Indonesia.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.