Saat "malas" justru membuka jalan menuju hidup berkecukupan - ANTARA News Megapolitan

Jakarta (ANTARA) - Istilah lazy economy pertama kali populer di China. Hal itu merujuk pada gaya konsumsi yang mengutamakan penghematan waktu dan tenaga lewat layanan antar makanan, robot pembersih rumah, hingga jasa serba otomatis.

Istilah ini lantas menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan kerap disalahpahami sebagai pembenaran untuk bermalas-malasan, seolah kemudahan serba instan adalah tanda melemahnya etos kerja sebuah generasi.

Padahal, orang yang membayar jasa laundry, memesan makanan, atau berlangganan layanan yang menghemat pekerjaan rumah belum tentu malas. Bisa jadi mereka sedang membeli sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang, yaitu waktu.

Data Mintel, lembaga riset pasar global, menunjukkan meningkatnya permintaan serupa di Asia Pasifik, dengan lebih dari separuh konsumen urban Indonesia sudah terbiasa memesan makanan lewat ponsel sebelum jam makan tiba.

Dalam pengertian ini, lazy economy lebih tepat dipahami sebagai ekonomi kemudahan produktif, yaitu menggunakan teknologi dan layanan untuk mengurangi pekerjaan rutin, agar energi bisa dialokasikan pada sesuatu yang lebih bernilai.

Di sinilah ia bersinggungan dengan slow living, gerakan yang sekilas tampak berlawanan arah namun berangkat dari keresahan yang sama.

Jika lazy economy bertanya, bagaimana pekerjaan ini bisa dilakukan lebih mudah, slow living bertanya, setelah pekerjaan itu menjadi lebih mudah, untuk apa waktu yang tersisa digunakan. Irisan keduanya ada pada satu kesadaran: waktu adalah sumber daya yang terbatas dan berharga, dan keduanya sama-sama menolak gagasan bahwa sibuk adalah tanda kehormatan.

Ini bukan sekadar kesan. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis Badan Pusat Statistik pada Agustus 2025 menunjukkan 146,54 juta penduduk Indonesia bekerja, dan 67,32 persen di antaranya, atau 98,65 juta orang, tergolong pekerja penuh waktu dengan jam kerja minimal 35 jam seminggu. Bahkan, 25,47 persen pekerja bekerja lebih dari 49 jam seminggu, jauh melampaui batas 40 jam yang diatur peraturan ketenagakerjaan.

Dalam kondisi seperti ini, wajar bila banyak karyawan kantoran rela membayar lebih untuk memesan makan malam lewat aplikasi ketimbang memasak sendiri, memilih tinggal lebih dekat dengan kantor meski sewanya lebih mahal, atau berlangganan jasa bersih-bersih rumah, semata agar tersisa waktu untuk makan malam bersama anak sebelum ia tidur. Bukan karena tidak mampu melakukannya sendiri, tetapi karena mereka menghitung ulang nilai waktunya.

Pola serupa

Pola serupa terjadi di meja kerja pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan menyumbang 61 persen produk domestik bruto pada 2023. Namun mayoritas masih bergulat dengan pencatatan keuangan yang usang.

Business Fitness Index 2024, riset OCBC bersama NielsenIQ, menemukan 77 persen UMKM yang disurvei masih mencatat keuangan secara manual. Ironisnya, ini terjadi ketika digitalisasi pembayaran justru melesat jauh di depan.

Bank Indonesia mencatat hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan 65,77 juta pengguna dan diterima 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen di antaranya UMKM. Dengan kata lain, pelaku usaha sudah terbiasa menerima pembayaran digital, tetapi belum tentu mencatatnya dengan baik.

Akibatnya, laba di atas kertas kerap terlihat sehat, tapi kas mengering justru saat harus membayar gaji karyawan di akhir bulan. Kini, teknologi pencatatan otomatis berbasis kecerdasan buatan, yang bisa diakses semudah mengirim pesan singkat, mulai mengambil alih tugas ini, membebaskan pelaku usaha dari begadang menjumlah nota.

Lalu, ke mana waktu dan energi yang terselamatkan itu, baik oleh pekerja maupun pelaku usaha, seharusnya dialihkan? Jawabannya bisa dipetakan dalam empat dimensi hidup berkecukupan yang jarang masuk hitungan ekonomi arus utama, karena selama ini kesuksesan hanya diukur dari gaji atau omzet semata.

Dimensi pertama, ketenangan hati. Kecemasan pelaku usaha yang tidak tahu apakah kasnya cukup untuk bulan depan, atau pekerja yang tidak sempat menyapa keluarganya sendiri, sama-sama lahir dari hidup yang berjalan tanpa kendali.

Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah, sebab penjualan tetap bisa turun dan target tetap menekan. Namun ketika sebagian beban rutin itu didelegasikan atau disederhanakan, kabut ketidakpastian perlahan menghilang, digantikan kepala yang lebih dingin dalam mengambil keputusan.

Dimensi kedua, harta yang cukup, dalam arti yang terukur, bukan sekadar perasaan kira-kira. Laporan keuangan yang akurat membantu pengusaha menakar penghasilan wajar yang layak diambil setiap bulan, tanpa mengorbankan kas operasional.

Bagi pekerja, waktu yang terselamatkan dari kelelahan rumah tangga bisa dialihkan untuk mengasah keterampilan atau mencari penghasilan tambahan yang lebih bermakna, bukan sekadar lembur tanpa arah.

Dimensi ketiga, hidup yang bermartabat. Baik pemilik usaha maupun pekerja yang tidak lagi terjebak rutinitas yang melelahkan memiliki lebih banyak ruang untuk hadir secara utuh bagi keluarga dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya.

Martabat

Martabat tidak dibangun dari besarnya penghasilan, tetapi dari integritas yang konsisten dijaga, dan itu jauh lebih mudah dirawat ketika seseorang tidak selalu berada dalam kondisi lelah dan kalut.

Dimensi keempat, hidup yang penuh berkah, tampak paling abstrak namun sebenarnya paling konkret dampaknya.

Waktu yang terselamatkan bisa dialihkan untuk hal-hal yang manfaatnya melampaui diri sendiri: mendampingi anak belajar, berbagi ilmu kepada sesama, hingga menunaikan zakat, sedekah, dan wakaf secara konsisten karena kondisi keuangan sudah jernih dan terukur. Kemampuan berbagi secara rutin, bukan sesekali saat rezeki berlebih, adalah bukti nyata bahwa fondasi hidup sudah berdiri kokoh.

Pada akhirnya, baik lazy economy maupun slow living dalam pengertian yang sehat bukan tentang menghindari tanggung jawab, melainkan tentang memilih dengan cerdas: pekerjaan mana yang layak didelegasikan, aktivitas mana yang layak dikurangi, dan energi mana yang harus dijaga sepenuh hati untuk hal-hal yang benar-benar membentuk kualitas hidup.

Data dari BPS, Kemenkop UKM, hingga Bank Indonesia menunjuk ke arah yang sama: jutaan pekerja dan pelaku UMKM Indonesia sedang kelelahan oleh hal-hal yang sebenarnya bisa didelegasikan, bukan oleh pekerjaan inti yang menjadi alasan mereka bangun setiap pagi.

Keberanian untuk "malas" pada urusan itu justru bisa menjadi pintu masuk menuju empat dimensi hidup berkecukupan: hati yang tenang, harta yang cukup, hidup bermartabat, dan penuh keberkahan.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukan hanya seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan, melainkan berani “malas” untuk melakukan pekerjaan yang tidak penting, agar kita memiliki lebih banyak waktu untuk menjalani hidup yang benar-benar berarti bersama orang-orang yang paling berharga.

*) Praktisi keuangan keluarga dan pendamping keuangan bisnis UMKM

Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.