Trump Undang Putin Hadiri KTT G20 di Miami

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri KTT G20 yang akan digelar di Miami, Florida, pada Desember mendatang. Undangan tersebut menjadi langkah terbaru Trump dalam upayanya membangun hubungan antara kedua negara di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada wartawan pada Rabu (23/9) bahwa Putin telah diundang ke pertemuan tersebut. 

"Untuk menyelesaikan masalah, kita harus bertemu dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita atau dengan pihak yang memiliki persoalan dengan kita," kata Rubio seperti dilaporkan Al Jazeera. "Karena itu, kami mengundang Presiden Putin ke G20."

"Kami melihat ini sebagai kesempatan baginya untuk bertemu bukan hanya dengan presiden, tetapi juga dengan para pemimpin dunia lainnya. Kami berharap dia menerima undangan tersebut."

Pernyataan Rubio disampaikan setelah ia bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tengah berlangsung di New York.

Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB pada Rabu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyerukan agar dunia meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Rusia.

"Ketika seseorang memberikan lebih banyak uang kepada Rusia melalui perdagangan, mereka membuat perang ini berlangsung lebih lama. Itulah sebabnya kami terus mendesak pembatasan perdagangan dengan agresor dan itulah mengapa kami sendiri berupaya mengurangi pendapatan Rusia," ujarnya.

Zelenskyy mengaku ragu Rusia benar-benar berniat mengambil langkah yang dapat mengakhiri perang.

Trump sejauh ini belum berhasil mencapai kesepakatan antara Rusia dan Ukraina untuk mengakhiri perang yang bermula pada 2022.

Para pejabat Ukraina mendorong penghentian sementara serangan terhadap infrastruktur energi serta langkah-langkah untuk memperlancar pelayaran di Laut Hitam. Namun, Rusia sejauh ini hanya menunjukkan sedikit tanda bahwa mereka tertarik pada pengaturan tersebut.

"Kami tidak akan menghentikan sementara operasi militer khusus kami," kata Lavrov dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Rabu.

Ia menuduh negara-negara Eropa menginginkan jeda pertempuran agar dapat membanjiri Ukraina dengan senjata.

Meski demikian, Rubio tetap optimistis gencatan senjata sementara masih mungkin dicapai.

"Saya kira kedua pihak telah menunjukkan minat terhadap gencatan senjata terbatas yang mencakup sektor energi dan pengiriman gandum," katanya. "Tentu saja, mencapai kesepakatan itu juga tidak akan mudah."

Zelenskyy mengatakan kepada wartawan bahwa Kyiv tetap terbuka terhadap gencatan senjata di wilayah Laut Hitam.

"Kami menunggu tanggapan Rusia," katanya seraya menambahkan bahwa Ukraina siap menjamin keamanan pelayaran dan ketahanan pangan di Laut Hitam jika Rusia juga siap mengambil langkah nyata menuju deeskalasi.

"Kita harus memulai dari suatu titik."

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Putin pada 2023 atas dugaan kejahatan perang terkait deportasi anak-anak Ukraina ke wilayah Rusia.

Surat perintah tersebut mewajibkan negara-negara anggota ICC menangkap Putin jika ia memasuki wilayah mereka. Namun, ICC tidak memiliki mekanisme sendiri untuk menjalankan penangkapan tersebut. AS bukan anggota ICC.