ILUSTRASI. Analis memberikan rekomedasi saham bank Himbara yang punya fundamental mumpuni di tengah tekanan harga saham (KONTAN/Cheppy A Muchlis)
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kinerja saham bank-bank besar sepanjang 2026 masih berbanding terbalik dengan fundamental yang tetap positif. Sejumlah saham bank Himbara bahkan terkoreksi dua digit sejak awal tahun, meski laba dan kredit masih tumbuh solid pada semester I-2026.
Berdasarkan periode berjalan hingga penutupan perdagangan Senin (31/8/2026), saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 11,20% secara year to date (ytd).
Sejalan, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 11,67%, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ambles 17,06% hingga 31 Agustus 2026
Tekanan lebih dalam terjadi pada saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang anjlok 20,40% ytd. Di sisi lain, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masih mampu mencatatkan kenaikan 5,53%.
Baca Juga: BTN Perkuat KPR Subsidi, Keterhunian Rumah FLPP Jambi Capai 95,07%
Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah bank swasta. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 19,81% ytd, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) susut 5,87%, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) terkoreksi 9,49%, dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) anjlok hingga 58,25%.
Sementara itu, saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) justru melesat 74,09% sejak awal tahun.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan adanya gap antara fundamental dengan harga saham perbankan.
Menurut dia, kinerja 10 bank besar pada semester I-2026 secara umum masih solid dan menunjukkan resiliensi, meski industri menghadapi tekanan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) akibat tingginya biaya dana dan kondisi likuiditas yang relatif ketat.
Sejumlah bank besar masih mencatatkan pertumbuhan laba. BBRI misalnya membukukan laba sekitar Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan. Sementara laba BMRI mencapai sekitar Rp30,4 triliun atau tumbuh 24,4%, BBNI Rp10,75 triliun atau tumbuh 6,6%, dan BBCA Rp29,5 triliun atau tumbuh 1,8%.
"Sentimen terhadap sektor perbankan masih positif, terutama karena pertumbuhan kredit tetap double digit dan kualitas aset relatif terjaga," kata Nafan kepada kontan.co.id, Senin (31/8/2026).
Pertumbuhan kredit industri perbankan pada Juni 2026 mencapai 12,67% yoy, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,21% yoy.
Baca Juga: Bank Muamalat Genjot Pembiayaan SME, Tumbuh 21% Jadi Rp 3,2 Triliun
Lantas, mengapa fundamental yang positif belum mampu mengangkat harga saham bank-bank besar?
Nafan menilai, salah satu faktor utamanya adalah derasnya aksi jual investor asing atau foreign outflow. Ketidakpastian suku bunga global yang masih tinggi serta fluktuasi nilai tukar rupiah membuat investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Saham bank Himbara yang memiliki kapitalisasi pasar besar dan menjadi bagian signifikan dari portofolio investor asing akhirnya menjadi salah satu yang paling terdampak.
"Karena saham-saham perbankan Himbara berkapitalisasi pasar besar menjadi porsi terbesar dalam portofolio investor asing di Indonesia, saham-saham inilah yang paling langsung terdampak aksi melepas kepemilikan tersebut," ujarnya.
Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati tekanan terhadap margin bank. Lingkungan suku bunga tinggi membuat biaya dana meningkat, sementara bank memiliki keterbatasan untuk langsung menaikkan suku bunga kredit, terutama pada sektor-sektor prioritas.
Baca Juga: Krom Bank Andalkan Channeling Fintech untuk Genjot Kredit pada 2026
Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kompresi NIM dan perlambatan pertumbuhan laba ke depan.
Investor juga masih mencermati normalisasi kualitas aset serta potensi peningkatan risiko kredit pada segmen mikro dan UMKM. Di sisi lain, kebijakan pemerintah terkait penugasan strategis dan penyaluran kredit program juga menjadi perhatian pasar.
Meski demikian, Nafan menilai koreksi saham bank saat ini lebih banyak dipengaruhi persepsi risiko pasar dan penyesuaian valuasi ketimbang memburuknya fundamental operasional.
Nafan melihat mulai terjadi konvergensi antara fundamental dan harga saham bank. Namun, perbaikan fundamental tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham.
Menurut dia, kondisi tersebut justru membuka peluang rerating apabila pasar memperoleh konfirmasi bahwa pertumbuhan kredit, NIM, kualitas aset dan profitabilitas bank terus membaik.
"Fundamental bank-bank besar masih relatif lebih kuat dibandingkan performa sahamnya, sehingga masih terdapat ruang rerating," katanya.
Untuk semester II hingga akhir 2026, peluang perbaikan kinerja bank besar masih terbuka meski diperkirakan berlangsung lebih selektif dan gradual.
Baca Juga: BNC Bidik Penyaluran Kredit Tembus Rp8 Triliun di 2026
Sejumlah katalis yang dapat menopang sektor perbankan antara lain pertumbuhan kredit, potensi stabilisasi biaya dana, perbaikan NIM, normalisasi cost of credit, serta peluang pelonggaran kebijakan moneter.
Data Juli 2026 bahkan menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan meningkat menjadi sekitar 13% yoy.
"Prospek sektor perbankan sampai akhir tahun tetap konstruktif, dengan preferensi kepada bank yang memiliki franchise dana murah kuat, kualitas aset baik, dan kemampuan menjaga NIM," ujar Nafan.
Untuk pilihan saham, Nafan merekomendasikan BBCA dengan target harga Rp 7.900, BBNI Rp 4.020, BBRI Rp 3.440 dan BMRI Rp 4.720.
Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki juga melihat kinerja bank besar atau KBMI IV pada semester I-2026 secara umum masih solid. BMRI dan BBCA bersaing di posisi teratas dari sisi laba, sementara BBNI mencatat pertumbuhan kredit yang agresif.
Menurut Yaki, ekspansi kredit ke sektor riil dan korporasi menjadi salah satu penopang kinerja bank Himbara. Pembiayaan proyek strategis, hilirisasi dan infrastruktur membuat pendapatan bunga tetap tumbuh.
Selain itu, digitalisasi juga menjadi sumber pertumbuhan melalui peningkatan transaksi dan fee based income. Kualitas aset bank besar pun masih terjaga, dengan NPL Mandiri sekitar 0,98% dan BNI 1,9%.
Namun, Yaki menilai pasar saham saat ini lebih melihat prospek ke depan ketimbang sekadar kinerja semester I-2026
Foreign outflow yang masih besar, persepsi terhadap arah kebijakan pemerintah dan potensi penugasan kepada bank BUMN menjadi sejumlah faktor yang menekan sentimen.
Di sisi lain, tekanan suku bunga juga masih menjadi perhatian karena dapat meningkatkan cost of fund.
Yaki melihat salah satu katalis penting pada semester II adalah potensi transmisi pelonggaran moneter. Jika suku bunga mulai turun, biaya dana perbankan berpeluang melandai sehingga memberikan ruang bagi ekspansi NIM.
Musim penyaluran kredit korporasi, konsumer, sektor riil dan infrastruktur juga diperkirakan dapat menjadi katalis tambahan.
"Normalisasi biaya pencadangan juga dapat menjadi tambahan laba bersih apabila kualitas aset tetap sehat," jelas Yaki.
Untuk rekomendasi, Yaki memberikan rating BBNI Buy dengan target Rp 5.690, BBRI Hold Rp 4.400, BMRI Buy Rp 6.500 dan BBCA Trading Buy Rp 7.450.
Baca Juga: Allo Bank (BBHI) Bidik Pertumbuhan Kredit di Atas Industri pada 2026
Sementara itu, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai fundamental bank besar masih cukup kuat, tetapi pergerakan saham sangat dipengaruhi foreign flow, rupiah dan imbal hasil US Treasury.
Karena itu, menurut Andrey, saham bank dengan fundamental kuat namun valuasinya telah terkoreksi dapat menjadi peluang akumulasi secara bertahap.
"Kami masih positif terhadap sektor perbankan dan melihat koreksi harga sebagai peluang akumulasi secara bertahap, terutama pada bank-bank besar dengan franchise kuat, CASA tinggi, kualitas aset terjaga, dan valuasi menarik," kata Andrey.
Ia memilih BBCA, BMRI dan BBRI sebagai saham pilihan di sektor perbankan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- rekomendasi saham
- saham bank
- Saham Bank Big Caps
- Saham Bank BUMN
- Kinerja Saham Bank