Sekjen PBB prihatin eskalasi konflik Rusia-Ukraina
Jumat, 21 Agustus 2026 09:09 WIB
Ivonne A-Baki dari Ekuador, seorang kandidat baru untuk posisi Sekretaris Jenderal PBB berikutnya, berbicara dalam sebuah taklimat pers di area *stakeout* Majelis Umum setelah Dialog Informal dengan negara-negara anggota PBB dan kelompok masyarakat sipil di Ruang Dewan Perwalian, Markas Besar PBB, New York City, AS, pada 20 Agustus 2026. ANTARA/Selçuk Acar - Anadolu Agency /pri. (ANTARA/Selçuk Acar - Anadolu Agency /pri.)
New York (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan keprihatinannya atas eskalasi konflik yang terus berlanjut di Ukraina, termasuk meluasnya serangan hingga ke wilayah Rusia.
"Sekjen Guterres tetap sangat prihatin atas eskalasi konflik yang terus berlanjut ini, termasuk hingga ke wilayah Federasi Rusia," kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam konferensi pers pada Kamis (20/8).
Dujarric menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional, di mana pun serangan itu terjadi.
Guterres juga terus mendesak agar ketegangan segera mereda dan gencatan senjata tanpa syarat segera diberlakukan, kata Dujarric.
Rusia telah memperingatkan bahwa pasokan senjata ke Ukraina menghambat upaya perdamaian dan membuat sekutu anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terlibat langsung dalam konflik tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov mengatakan setiap pengiriman yang membawa senjata untuk Ukraina akan menjadi target sah bagi Rusia.
Sebelumnya, pada 28 Juni, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Rusia berharap dialog mengenai Ukraina dengan Amerika Serikat dapat terus berlanjut setelah berakhirnya fase panas konflik Iran.
Putin mengatakan Rusia siap melanjutkan perundingan dan membahas seluruh rincian serta isu yang telah dibahas dalam pertemuan di Anchorage, Alaska, pada Agustus 2025.
Sementara itu, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan pihaknya siap menyelesaikan krisis Ukraina secara damai, tetapi sambil menegaskan Rusia memiliki kemampuan cukup untuk melanjutkan operasi militer khusus tersebut.
Sumber: Sputnik
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026