Temuan studi Kredivo Group bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menunjukkan bahwa kredit digital mulai memainkan fungsi yang lebih luas. Selain membiayai transaksi, layanan tersebut dapat menjadi pintu masuk sebagian masyarakat ke sistem kredit formal, termasuk generasi muda dan pelaku usaha mikro.
Kredit Digital Jadi Pintu Masuk Kredit Formal
Kredit digital dapat menjadi pintu masuk ke sistem keuangan formal ketika seseorang memperoleh akses pembiayaan untuk pertama kalinya, memiliki pengalaman mengelola cicilan, membangun rekam pembayaran, dan kemudian berpeluang mengakses layanan kredit formal lainnya.
Studi LD FEB UI mencatat akses kredit pertama melalui Kredivo pada 2025 meningkat 10 kali lipat dibandingkan 2019. Sekitar satu dari enam pengguna kredit aktif pada 2025 merupakan pengguna yang memperoleh akses kredit untuk pertama kalinya.
Kelompok tersebut juga cukup dekat dengan profil generasi muda. Sebanyak 57% pengguna kredit pertama berusia di bawah 30 tahun, sementara 48% di antaranya merupakan perempuan.
Angka tersebut penting bukan semata karena menunjukkan pertumbuhan pengguna. Kredit pertama dapat menjadi pengalaman awal seseorang berinteraksi dengan mekanisme pembiayaan formal.
Paksi Walandouw, Deputy Head Research and Training LD FEB UI, menjelaskan bahwa masuknya seseorang ke sistem kredit dapat memberikan dampak lanjutan terhadap akses finansialnya.
“Yang penting bahwa penting bagi masyarakat untuk tahu kalau saat ada kebutuhan yang mendesak itu bisa dipenuhi saat itu," ujar Paksi dalam acara peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Temuan penelitian juga menunjukkan 23% pengguna menyatakan Kredivo membuat akses mereka terhadap kredit formal lainnya menjadi lebih mudah.
Artinya, fungsi kredit digital dalam kasus ini tidak berhenti ketika transaksi selesai. Ada kemungkinan muncul efek lanjutan berupa meningkatnya pengalaman dan rekam jejak pengguna dalam sistem keuangan.
Dari PayLater untuk Belanja ke Kredit Produktif
Selama ini, PayLater kerap dipersepsikan sebagai fasilitas untuk membeli barang ketika uang tunai belum tersedia. Persepsi tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi data penelitian menunjukkan penggunaan kredit digital ternyata lebih beragam.
Porsi kredit untuk kebutuhan produktif meningkat dari 52,3% pada 2019 menjadi 54,3% pada 2025.
Kebutuhan produktif tersebut antara lain mencakup modal usaha, pendidikan, kesehatan, hingga renovasi rumah. Bahkan, jumlah pengguna yang memanfaatkan kredit sebagai modal usaha meningkat 15 kali lipat dibandingkan 2019.
Di sinilah terjadi perubahan penting dalam cara melihat kredit digital. Barang yang dibeli dengan kredit tidak selalu berakhir sebagai konsumsi semata.
Sebuah laptop, misalnya, bisa menjadi barang konsumsi sekaligus alat kerja bagi pekerja lepas. Biaya pendidikan merupakan pengeluaran saat ini, tetapi dapat meningkatkan kapasitas seseorang untuk bekerja. Bagi pemilik usaha, pembiayaan stok dapat menjadi modal kerja yang menjaga kegiatan bisnis tetap berjalan.
Dengan kata lain, batas antara kredit konsumtif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu hitam-putih.
Baca Juga: Kualitas Kredit Solid, KRI Ganjar Peringkat Double A untuk Surat Utang Indah Kiat
Baca Juga: Tidak Hanya Sediakan Fasilitas Networking, Bank Saqu Siapkan Kredit untuk Solopreneur Mulai dari Rp30 Juta
Mengapa UMKM Mikro Menjadi Bagian Penting?
Perubahan tersebut semakin terlihat pada kelompok usaha mikro. Berdasarkan studi tersebut, 96,9% peminjam yang menggunakan kredit untuk modal usaha merupakan usaha mikro.
Sebanyak 40,6% peminjam modal usaha bahkan memperoleh kredit usaha pertama melalui Kredivo.
Angka itu memperlihatkan persoalan yang lebih besar dari sekadar kebutuhan modal. Bagi usaha mikro, masalahnya sering kali bukan hanya berapa besar uang yang tersedia, tetapi apakah mereka memiliki akses terhadap pembiayaan ketika membutuhkan modal kerja.
Bayangkan sebuah usaha kecil harus membeli stok hari ini, sementara pembayaran dari pelanggan baru masuk beberapa minggu kemudian. Tanpa pembiayaan, pemilik usaha mungkin harus mengurangi pembelian stok atau menunda ekspansi.
Pembiayaan jangka pendek dapat menjembatani selisih waktu tersebut. Usaha memperoleh modal, stok tetap tersedia, penjualan berjalan, kemudian arus kas digunakan untuk memenuhi kewajiban pembayaran.
Studi tersebut menemukan 34% peminjam modal usaha mengalami peningkatan omzet dalam kisaran 10–40%.
Temuan ini tidak berarti setiap pinjaman otomatis meningkatkan omzet. Namun, data tersebut menunjukkan adanya hubungan yang menarik antara akses pembiayaan dan kemampuan sebagian usaha mikro mempertahankan atau mengembangkan aktivitas bisnisnya.
Digital Footprint Bisa Menjadi Modal Finansial Baru
Salah satu gagasan paling menarik dari penelitian ini adalah konsep digital footprint atau jejak digital dalam konteks keuangan.
Masalah klasik sebagian usaha mikro adalah mereka tidak memiliki riwayat kredit yang cukup untuk menunjukkan reputasi finansialnya. Ketika belum pernah memperoleh kredit, mereka tidak memiliki rekam pembayaran. Tanpa rekam pembayaran, akses terhadap pembiayaan berikutnya juga dapat menjadi lebih sulit.
Kredit digital berpotensi menciptakan siklus yang berbeda:
mendapat akses kredit → menggunakan pembiayaan → membayar sesuai kewajiban → membangun rekam perilaku → memiliki digital footprint finansial.
Paksi menekankan pentingnya proses tersebut bagi masyarakat yang sebelumnya belum memiliki akses kredit.
“Ketika dia masuk kredit, berarti dia punya namanya digital footprint. Nah ini berarti dia mulai masuk pelan-pelan membangun reputasinya di financial.”
Digital footprint tentu bukan tiket otomatis untuk mendapatkan pinjaman bank. Namun, rekam perilaku pembayaran dapat menjadi bagian dari reputasi finansial seseorang.
Bagi pelaku usaha mikro yang sebelumnya berada di luar sistem kredit, perubahan kecil ini dapat memiliki arti besar. Mereka mulai memiliki data yang menunjukkan bagaimana mereka mengelola kewajiban finansial.
Apakah Kredit Digital Selalu Membuat Utang Membesar?
Ada paradoks dalam perluasan akses kredit. Semakin mudah seseorang memperoleh pembiayaan, semakin penting pula kemampuan untuk mengendalikan utang.
Studi LD FEB UI menemukan rata-rata Debt-to-Income Ratio (DTI) pengguna berada pada kisaran 10–19%. DTI merupakan perbandingan kewajiban utang dengan pendapatan yang digunakan untuk melihat seberapa besar beban pembayaran seseorang dibandingkan kemampuannya menghasilkan pendapatan.
Studi juga mencatat 58,7% pengguna yang aktif dan bertransaksi pada 2023 memperoleh peningkatan limit berdasarkan riwayat pembayaran dan perilaku kredit.
Data tersebut menunjukkan bahwa limit kredit tidak sama dengan utang yang benar-benar digunakan. Kemampuan membayar dan perilaku pembayaran tetap menjadi bagian penting dalam menentukan kesehatan kredit.
Temuan DTI tersebut juga tidak boleh diterjemahkan sebagai kesimpulan bahwa seluruh penggunaan PayLater pasti aman. Kondisi setiap pengguna berbeda, sehingga kemampuan membayar tetap harus menjadi pertimbangan utama.
Dari Satu Transaksi hingga Dampak Rp33 Triliun
Dampak kredit digital juga tidak berhenti pada pengguna dan pemberi pinjaman.
Studi tersebut memperkirakan Kredivo memberikan kontribusi sekitar Rp33 triliun terhadap PDB Indonesia pada 2025, hampir 10 kali lipat dibandingkan 2019.
Paksi menjelaskan bahwa angka tersebut dihitung menggunakan model input-output untuk melihat bagaimana kredit yang disalurkan menghasilkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
“Jadi dari kredit yang disalurkan oleh Kredivo kita masukkan ke dalam model perekonomian input-output sesuai dengan perannya untuk mendapatkan dampak ekonomi yang ditimbulkan.”
Mekanismenya dapat dibayangkan secara sederhana. Ketika pengguna memperoleh pembiayaan dan membeli barang, merchant menerima pembayaran. Merchant kemudian membeli stok dari pemasok, membayar pekerja, menggunakan jasa logistik, dan melakukan aktivitas ekonomi lainnya.
Satu transaksi akhirnya menciptakan rangkaian transaksi lanjutan.
Dalam studi tersebut, sektor perdagangan menjadi salah satu sektor yang mendapatkan dampak terbesar, disusul antara lain perdagangan mobil dan sepeda motor serta sektor jasa, listrik, barang elektronik, komunikasi, dan perlengkapan.
Kredit Digital Mulai Menjalar ke Luar Kota Besar
Perubahan lainnya terlihat dari jangkauan ekosistem merchant. Jaringan merchant Kredivo meningkat sekitar 16 kali lipat sejak 2019 dan telah menjangkau 446 kabupaten/kota.
Perluasan tersebut penting karena inklusi keuangan bukan hanya soal berapa banyak orang yang memiliki akses, tetapi juga di mana akses itu tersedia.
Jika layanan pembayaran dan pembiayaan hanya terkonsentrasi di pusat ekonomi, manfaat digitalisasi keuangan juga berpotensi terkonsentrasi di wilayah urban. Perluasan ke wilayah tier 2 dan tier 3 membuka kemungkinan lebih banyak pelaku usaha dan konsumen di luar kota besar berinteraksi dengan ekosistem finansial digital.
Ketika Kredit Menjadi Buffer Saat Krisis
Pengalaman pandemi Covid-19 memberikan gambaran lain mengenai fungsi kredit digital.
Sebanyak 92% responden penelitian menggunakan Kredivo selama masa Covid-19, sementara 85% menyatakan pembiayaan tersebut membantu pengeluaran di tengah krisis.
Paksi melihat fungsi pembiayaan dapat berubah mengikuti kondisi ekonomi. Saat ekonomi tumbuh, kredit dapat membantu konsumsi dan aktivitas usaha. Ketika ekonomi memburuk, pembiayaan dapat menjadi semacam penyangga bagi rumah tangga atau pelaku usaha yang menghadapi ketidaksesuaian antara kebutuhan dan arus kas.
“Yang kita inginkan adalah pembiayaan, baik Kredivo itu ketika ekonomi baik biar bisa membantu UMKM dan ekonomi, tapi ketika ekonomi buruk dia juga bisa menjadi buffer yang baik untuk masyarakat," ujarnya.
Namun, fungsi sebagai buffer tidak berarti kredit menggantikan pendapatan. Utang tetap harus dibayar. Justru dalam kondisi krisis, kemampuan mengelola kewajiban menjadi semakin penting.
Tantangannya Bukan Lagi Sekadar Memperluas Akses
Jika seluruh temuan penelitian tersebut dibaca sebagai satu rangkaian, perubahan paling menarik sebenarnya bukan sekadar pertumbuhan penggunaan PayLater.
Perubahan yang lebih fundamental adalah munculnya kemungkinan bahwa kredit digital menjadi pengalaman pertama sebagian masyarakat dalam sistem kredit formal.
Dari sana, seseorang dapat membangun rekam pembayaran. Pelaku usaha mikro dapat mulai memiliki digital footprint. Sebagian pengguna dapat mengalokasikan kredit untuk kebutuhan produktif. Aktivitas pembiayaan kemudian merembet ke merchant, pemasok, pekerja, dan sektor ekonomi lain.
Namun, inklusi keuangan juga membawa tanggung jawab baru.
Semakin mudah masyarakat memperoleh kredit, semakin penting pula literasi keuangan, penilaian kemampuan membayar, dan perilaku penggunaan kredit yang sehat. Akses tanpa kemampuan mengelola utang hanya akan memindahkan persoalan dari keterbatasan pembiayaan menjadi risiko utang.
Karena itu, ukuran keberhasilan kredit digital tidak cukup hanya dilihat dari jumlah pengguna atau nilai transaksi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah masyarakat memperoleh akses tersebut.
Apakah mereka menjadi lebih mampu mengelola keuangan? Apakah usaha mereka menjadi lebih produktif? Apakah mereka memperoleh rekam jejak finansial yang dapat membuka akses lebih luas? Atau justru menggunakan kemudahan kredit tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar?
Pada akhirnya, masa depan kredit digital di Indonesia bukan hanya tentang membuat pinjaman semakin mudah diakses. Tantangannya adalah memastikan akses tersebut benar-benar menjadi jembatan menuju ekosistem keuangan formal yang lebih sehat dan produktif bagi generasi muda maupun UMKM.
Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen di Juli 2026, Kredit Investasi Paling Melesat
Baca Juga: Klaim Asuransi Kredit Tembus Rp9,28 Triliun, Hampir Setara Premi
FAQ
Apa itu kredit digital?
Kredit digital adalah fasilitas pembiayaan yang pengajuan, penilaian, pencairan, atau pengelolaannya dilakukan melalui platform digital. Dalam konteks penelitian Kredivo dan LD FEB UI, kredit digital dapat menjadi salah satu akses awal masyarakat terhadap pembiayaan formal, termasuk bagi pengguna yang sebelumnya belum memiliki pengalaman memperoleh kredit.
Apakah PayLater termasuk kredit formal?
PayLater merupakan fasilitas pembiayaan yang memungkinkan pengguna melakukan transaksi dan membayarnya kemudian sesuai ketentuan penyedia layanan. Dalam konteks penelitian ini, penggunaan PayLater melalui Kredivo menjadi salah satu bentuk interaksi pengguna dengan layanan kredit formal, tetapi keberadaan PayLater tidak otomatis berarti seluruh pengguna memiliki akses terhadap semua produk kredit formal lainnya.
Bagaimana kredit digital membantu UMKM?
Kredit digital dapat membantu UMKM, terutama usaha mikro, melalui pembiayaan modal kerja. Dana tersebut dapat digunakan untuk membeli stok, memenuhi kebutuhan operasional, atau menjembatani arus kas ketika penerimaan dari pelanggan belum masuk. Studi Kredivo dan LD FEB UI menemukan 96,9% peminjam modal usaha merupakan usaha mikro.
Apa yang dimaksud digital footprint dalam kredit?
Digital footprint dalam konteks kredit merupakan rekam jejak aktivitas dan perilaku seseorang dalam menggunakan layanan keuangan digital. Riwayat pembayaran dapat menjadi bagian dari reputasi finansial dan berpotensi membantu seseorang membangun rekam kredit, meskipun digital footprint bukan jaminan otomatis untuk memperoleh pembiayaan dari lembaga lain.
Apakah kredit digital hanya digunakan untuk konsumsi?
Tidak. Studi Kredivo dan LD FEB UI menunjukkan porsi penggunaan kredit untuk kebutuhan produktif meningkat dari 52,3% pada 2019 menjadi 54,3% pada 2025. Penggunaan tersebut mencakup modal usaha, pendidikan, kesehatan, dan renovasi rumah. Artinya, kredit digital dalam penelitian tersebut digunakan untuk kebutuhan yang lebih beragam daripada sekadar belanja konsumtif.
Apakah kredit digital bisa membantu akses ke kredit lain?
Dalam studi tersebut, 23% pengguna menyatakan Kredivo membuat akses mereka terhadap kredit formal lainnya menjadi lebih mudah. Salah satu mekanismenya adalah pengalaman menggunakan kredit dan membangun rekam pembayaran. Namun, hal itu tidak berarti penggunaan satu layanan kredit otomatis menjamin seseorang memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan lain.
Apakah kredit digital selalu aman bagi pengguna?
Tidak ada jenis kredit yang otomatis aman untuk semua orang. Studi tersebut menemukan rata-rata Debt-to-Income Ratio pengguna berada pada kisaran 10–19%, tetapi kondisi keuangan setiap individu berbeda. Pengguna tetap perlu mempertimbangkan pendapatan, kewajiban yang sudah dimiliki, kemampuan membayar, dan tujuan penggunaan kredit sebelum mengambil pembiayaan.