Brussel (ANTARA) - Agustus 2026 menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat secara global, demikian ungkap Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa pada Kamis (10/9).
Suhu udara permukaan rata-rata global mencapai 16,96 derajat celsius, sedikit di atas rekor sebelumnya sekitar 16,95 derajat celsius yang tercatat pada Juli 2023. Angka tersebut 0,85 derajat celsius lebih tinggi daripada rata-rata suhu Agustus selama periode 1991-2020 dan 1,65 derajat celsius lebih tinggi daripada perkiraan suhu pada masa pra-industri, yakni periode 1850-1900.
Hal itu menandai bulan pertama sejak November 2025 di mana suhu rata-rata bulanan global melampaui tingkat pra-industri hingga lebih dari 1,5 derajat celsius.
Eropa Barat juga mengalami musim panas terhangat sepanjang sejarah pencatatan. Serangkaian gelombang panas yang datang jauh lebih awal, berkepanjangan, dan intens sejak Mei telah mendorong suhu rata-rata pada periode Juni-Agustus melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada 2003.
Suhu lautan juga menyentuh rekor tertinggi. Suhu permukaan laut rata-rata di seluruh samudra ekstrapolar antara 60 derajat lintang selatan dan 60 derajat lintang utara mencapai 21,07 derajat celsius pada Agustus, menjadikannya suhu tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan tersebut.
Suhu permukaan laut tetap sangat tinggi di sebagian besar wilayah Pasifik tropis, di mana kondisi El Nino semakin menguat dan berpotensi berkembang menjadi salah satu fenomena terkuat sepanjang sejarah dalam beberapa bulan mendatang.
Pencatatan tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim memicu fenomena ekstrem baik di atmosfer maupun lautan, dengan dampak yang semakin besar terhadap masyarakat, perekonomian, dan ekosistem di seluruh dunia, ujar Samantha Burgess, pemimpin strategis bidang iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.