Survei, Banyak Pasien Cuci Darah Memulai Hemodialisis dalam Kondisi Darurat

Kamis, 17 September 2026 - 17:30 WIB

VIVA –Survei Komunitas Pasien Cuci Darah (KPCDI) menemukan bahwa sembilan dari sepuluh pasien dialisis memulai hemodialisis (cuci darah) dalam kondisi darurat. Sekitar 70 persen menggunakan kateter double-lumen sebagai akses awal, sementara hanya 3,6 persen yang memulai dengan AV fistula atau Cimino.

Baca Juga

Angka ini bukan sekadar statistik klinis. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan keselamatan pasien telah terjadi jauh sebelum pasien menjalani sesi hemodialisis pertama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kalau hampir 90 persen pasien memulai cuci darah dalam kondisi darurat, maka persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memasang kateter atau membuat Cimino. Kita harus bertanya lebih jauh, mengapa pasien tiba di titik itu tanpa persiapan yang cukup?" kata Ketua Umum KPCDI, Tony Samosir Kamis 17 Septemer 2026.

Baca Juga

Menurut Tony, keselamatan pasien seharusnya dimulai sejak pasien penyakit ginjal kronis masih memiliki waktu untuk memahami kondisi, mempertimbangkan pilihan terapi, mempersiapkan akses, dan mengambil keputusan bersama dokter serta keluarganya.

 "Keselamatan pasien dialisis tidak dimulai ketika mesin HD dinyalakan. Keselamatan dimulai jauh sebelumnya, ketika pasien masih punya kesempatan untuk dipersiapkan agar tidak masuk ruang dialisis dalam keadaan darurat," tegasnya.

Survei KPCDI menunjukkan bahwa persoalan tidak berhenti setelah pasien berhasil menjalani dialisis pertama.
Di antara pasien yang menggunakan kateter, 74 persen melaporkan pernah mengalami demam atau menggigil, 36 persen mengalami gangguan aliran, dan 18 persen pernah dirawat di rumah sakit akibat komplikasi kateter.

Baca Juga

Pada pasien dengan akses permanen, 41 persen mengalami pembengkakan, 37 persen mengalami pembesaran area akses, 29 persen mengalami tusukan jarum berulang, dan 22 persen mengalami kesulitan saat kanulasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi pasien, kegagalan akses bukan komplikasi kecil. Ketika akses bermasalah, 21 persen pasien menyatakan waktu hemodialisis pernah dipersingkat, 10 persen harus mengeluarkan biaya tambahan, 42 persen mencari pelayanan di fasilitas kesehatan lain, 18 persen harus pergi ke luar provinsi, dan 19 persen membutuhkan rujukan karena unit HD tidak mampu menangani masalah aksesnya.

"Pasien seharusnya tidak menjadi pihak yang disuruh mencari jalan keluar sendiri ketika aksesnya gagal. Kalau akses itu adalah jalur hidup pasien, maka sistem pelayanan harus memiliki jalur yang jelas untuk menyelamatkannya," ujar Tony.

Halaman Selanjutnya

Ia mengatakan bahwa bagi pasien, tusukan berulang, pembengkakan, alarm mesin, gangguan aliran, atau fistula yang mulai berubah sering kali dianggap sebagai bagian normal dari dialisis. Akibatnya, sebagian pasien baru mencari bantuan ketika akses sudah mengalami gangguan berat.