(Ilustrasi) Foto udara proyek pembangunan Jalan Tol Yogyakarta Bawen di Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis (27/8/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah membutuhkan sumber pertumbuhan ekonomi baru untuk mengejar target pertumbuhan 8 persen. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai investasi, ekspor, belanja pemerintah, kredit UMKM, dan transisi energi perlu diarahkan agar memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan target pertumbuhan ekonomi 8 persen membutuhkan upaya lebih besar dan tidak cukup hanya mengandalkan sumber pertumbuhan konvensional.
"Kalau kita lihat target pertumbuhan ekonomi 8 persen, berarti kita butuh extra effort. Kita harus mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang baru, tidak hanya pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi yang konvensional," ujarnya dalam Sarasehan 100 Ekonom, Kamis (3/9/2026).
Salah satu sumber pertumbuhan yang perlu diperkuat adalah investasi. Menurut Esther, investasi tidak cukup dinilai dari besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak dan berkualitas.
"Di balik angka investasi, ada harapan terciptanya lapangan pekerjaan lebih banyak dan berkualitas," kata Esther.
Selain investasi, penguatan ekspor dinilai penting untuk menambah sumber pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga perlu mengarahkan belanja ke program yang memiliki multiplier effect lebih luas dan manfaat jangka panjang.
Dari sektor keuangan, pertumbuhan kredit perbankan sekitar 13,58 persen perlu diikuti penyaluran yang lebih merata. Kredit UMKM yang hanya tumbuh sekitar 1,1 persen menunjukkan masih terdapat ruang untuk memperluas pembiayaan kepada pelaku usaha.
Esther juga menyoroti transisi energi sebagai peluang untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru. Pengembangan energi bersih dapat dikaitkan dengan kawasan industri manufaktur untuk mendukung investasi dan industrialisasi.
Indef mengusulkan pengembangan renewable energy zone yang terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Integrasi tersebut dapat mempertemukan kebutuhan energi industri dengan pasokan energi bersih sekaligus mendukung pengembangan sektor manufaktur.
Kebijakan investasi, menurut Esther, juga perlu berjalan bersama penguatan sektor ekonomi lainnya agar dampak terhadap aktivitas usaha dan penciptaan lapangan kerja lebih luas.