Liputan6.com, Tokyo - Pihak berwenang pada Sabtu mengakhiri operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran yang telah berlangsung selama beberapa hari di sebuah pusat perbelanjaan yang ambruk di Jepang barat daya. Operasi tersebut dilakukan setelah gempa pada awal pekan menewaskan 36 orang.
Gempa magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu, wilayah selatan Jepang, pada Selasa (28/7/2026). Aeon Mall di Kashima menjadi salah satu lokasi yang mengalami kerusakan paling parah. Ledakan yang terjadi setelah gempa membuat sejumlah dinding dan lantai dua bangunan tersebut runtuh.
Perusahaan pengelola menduga ledakan dipicu oleh kebocoran gas. Saat ledakan terjadi, sekitar 3.000 pengunjung telah dievakuasi ke area parkir setelah gempa, tetapi sejumlah karyawan masih berada di dalam gedung.
Selama lima hari pencarian, petugas berhasil menyelamatkan lima orang dari balik reruntuhan dan menemukan jenazah tujuh orang lainnya. Pada Sabtu (1/8), pejabat setempat menyatakan seluruh orang yang sebelumnya dilaporkan hilang di lokasi tersebut telah ditemukan. Operasi pencarian di pusat perbelanjaan itu pun dihentikan.
Sementara itu, jumlah keseluruhan orang yang masih hilang di Prefektur Kumamoto belum diketahui. Pencarian masih terus dilakukan dengan melibatkan ribuan personel Pasukan Bela Diri Jepang, polisi, petugas penyelamat, dan anjing pelacak.
Dalam rapat satuan tugas pemerintah pada Sabtu, Perdana Menteri Sanae Takaichi meminta tim penyelamat memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Di lokasi lain yang juga terdampak parah di Prefektur Kumamoto, sebuah cerobong di pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro roboh dan menjebak 11 karyawan. Menurut pejabat setempat seperti dilaporkan Associated Press, sembilan orang telah dipastikan meninggal dunia, sedangkan dua lainnya berhasil diselamatkan.
Pihak berwenang mencatat 103 orang terluka akibat gempa di Kumamoto.