Viral Apartemen Dihantam Rudal Pasangan Ini Tetap Melangsungkan Pernikahan

Kyiv -

Di tengah dentuman ledakan dan kepulan asap hitam yang membumbung di langit Kyiv, Ukraina, sebuah kisah ketabahan dari pasangan asal Ukraina, Liudmyla Ryzhak dan Leonid Ryzhak viral.

Peristiwa serangan rudal dan pernikahan pasangan tersebut terjadi pada Selasa, (8/9/2026). Tepat pada malam sebelum hari pernikahan mereka, apartmen yang mereka tempati hancur dihantam ledakan dari serangan udara Rusia. Meski harus menggali gaun dan kemeja pengantin dari tumpukan puing-puing bangunan, keduanya memutuskan untuk tetap melangkah ke pelaminan.

Peristiwa ini bermula ketika serangan udara Rusia menghantam sebuah gudang tepat di depan apartemen Liudmyla Ryzhak dan Leonid Ryzhak. Ledakan dahsyat itu menghancurkan jendela, merusak perabotan, dan membakar tirai hunian mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Liudmyla (33 tahun) dan Leonid (43 tahun), yang merupakan seorang prajurit garis depan Ukraina, terbangun dalam kondisi pendengaran yang mendengung akibat suara ledakan. Bersama putri Liudmyla yang berusia enam tahun dan dua ekor marmot peliharaan, mereka langsung melarikan diri ke tempat perlindungan terdekat.

"Jika Tuhan masih memberi saya kelanjutan hidup, lalu mengapa saya harus menundanya?" ujar Liudmyla mengenai keputusannya untuk tidak membatalkan pernikahan dilansir dari ABC News.

"Bagi sebagian orang, hidup mereka berakhir hari ini. Dan siapa yang bisa menjamin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi besok? Bahwa besok tidak akan pernah datang untuk kita? Setidaknya untuk saat ini, saya berhak untuk bahagia. Begitu juga dia," ucapnya lagi.

Setelah situasi dirasa aman, mereka kembali ke apartemen yang sudah tidak layak huni tersebut untuk menyelamatkan pakaian pernikahan mereka. Liudmyla harus menarik rok tulle putihnya dari balik puing-puing sambil membersihkan pecahan kaca yang menempel. Sementara itu, Leonid harus memadukan kemeja tradisional vyshyvanka dengan celana militer dan sepatu kets, karena celana resminya tertimbun reruntuhan yang tidak bisa digali.

Perjuangan mereka tidak berhenti di situ. Saat tiba di kantor catatan sipil pada pukul 10:40 pagi, sirine tanda bahaya kembali berbunyi, memaksa prosesi pernikahan ditunda selama hampir tiga jam akibat serangan berikutnya.

Di tengah kepulan asap hitam dan bunyi ledakan yang masih terdengar dari kejauhan, pasangan ini tetap setia menunggu di halaman luar bersama warga sekitar. Leonid, yang baru saja kembali dari garis depan di wilayah Pokrovsk, Ukraina untuk mengambil cuti pernikahan, berusaha mencairkan suasana dengan candaan sebelum akhirnya melangkah masuk ke ruang upacara pernikahan.

"Saya bahkan belum sempat menyelesaikan perbaikan rumah," gurau Leonid saat melihat kondisi apartemen mereka yang hancur.

"Saya tidak pernah mengalami hari yang sespektakuler ini," balas Liudmyla tertawa.

Setelah sirine mereda, prosesi pernikahan akhirnya dapat dilangsungkan dengan khidmat. Di hadapan petugas, keduanya resmi mengikat janji suci sebagai suami istri di tengah situasi perang yang masih bergejolak. Bagi Liudmyla, pernikahan ini bukan sekadar momen bahagia, melainkan sebuah bentuk perayaan atas kehidupan yang berhasil mereka selamatkan.

"Kami mendapatkan kehidupan yang baru, karena kami berhasil bertahan hidup. Mungkin ini bisa disebut kehidupan baru, karena hidup kami bisa saja berakhir hari ini, dan semua ini tidak akan pernah terjadi. Jika ceritanya berbeda, saya tidak akan memakai gaun ini hari ini," kata Liudmyla.

(gaf/eny)