Pemerintah belum mengungkap berapa banyak pekerja yang diperkirakan terdampak kebijakan kerja jarak jauh tersebut. Belum ada penjelasan pula mengenai dampaknya terhadap efisiensi kerja.
Namun, setelah puluhan tahun diwarnai salah kelola, korupsi, dan inefisiensi di berbagai lembaga yang terkait dengan pemerintah, sebagian warga Iran menilai kebijakan tersebut justru menyoroti persoalan yang lebih besar, yakni ketidakefisienan birokrasi negara.
"Pendapat saya yang mungkin tidak populer adalah jika 85-90 persen pegawai sektor pemerintah diberhentikan dan 70 persen kementerian ditutup, sama sekali tidak akan ada masalah di negara ini," tulis seorang pengguna bernama Mohsen di X.
Zabihollah Salmani, wakil kepala Organisasi Administrasi dan Kepegawaian Iran, mengatakan dalam konferensi pers pada Agustus bahwa lebih dari 2,43 juta orang tercatat dalam sistem penggajian pemerintah.
Jika pegawai dewan, pemadam kebakaran, jaminan sosial, dan organisasi nonpemerintah ikut dihitung, jumlahnya mencapai lebih dari empat juta orang.
Rata-rata gaji bulanan pegawai pemerintah pada akhir tahun kalender Iran sebelumnya, yakni akhir Maret 2026, sekitar 240 juta rial atau US$ 104 berdasarkan nilai tukar saat ini.
Ketika ditanya wartawan berapa banyak dari pegawai tersebut yang bisa dikeluarkan dari daftar gaji tanpa mengganggu hasil kerja, Salmani mengatakan, "Kami belum memiliki angka tersebut."
Ia menambahkan, setiap instansi telah diminta menyerahkan data mengenai hal itu.
Berdasarkan data resmi, sekitar 1.075.000 orang tercatat dalam daftar gaji Kementerian Pendidikan, termasuk guru dan tenaga yang masih menjalani pelatihan. Sementara itu, sekitar 600.000 pegawai bekerja di bawah kementerian kesehatan dan jaringan lembaga yang berafiliasi dengannya.
Amir-Hossein, seorang pemuda yang bekerja di pusat penelitian yang terkait dengan Universitas Teheran dan didanai pemerintah, mengatakan bahwa sejak awal bulan ini ia mendapat jatah bekerja dari rumah selama dua hari dalam sepekan.
Sebelumnya, jam kerja ditetapkan mulai pukul 07.00 hingga 13.00. Namun, sesuai kebijakan pemerintah, mulai Rabu jam kerja akan berubah menjadi pukul 08.00 hingga 13.00.
Amir-Hossein mengatakan pekerjaannya dapat dilakukan menggunakan laptop, meski sesekali ia perlu berkoordinasi melalui telepon atau melakukan perjalanan singkat ke pusat penelitian lain. Secara keseluruhan, menurut dia, pola kerja jarak jauh memberikan manfaat.
"Kadang-kadang saya bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dibandingkan saat berada di kantor," katanya kepada Al Jazeera.
Ia meminta nama lengkapnya tidak disebutkan karena alasan keamanan.
Amir-Hossein biasanya menggunakan layanan transportasi daring untuk pergi dan pulang kerja. Karena itu, bekerja dari rumah membantunya menghemat pengeluaran.
Seorang ekonom yang berbasis di Iran dan berbicara kepada Al Jazeera tanpa disebutkan namanya mengatakan langkah-langkah yang ditempuh pemerintah pada dasarnya hanya mampu meredam krisis, bukan menjadi solusi jangka panjang atas persoalan tersebut.