Rabu, 30 September 2026 - 12:19 WIB
Lembang, VIVA – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya kemandirian dan ketahanan energi bagi Indonesia dalam mewujudkan target menjadi negara maju dalam 20 tahun mendatang. Menurutnya, ketahanan energi menjadi salah satu fondasi penting di tengah dinamika geopolitik global dan berkembangnya bentuk ancaman yang dihadapi negara.
Baca Juga
Hal tersebut disampaikan Bima saat memberikan kuliah umum dalam acara Studium Generale Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Sesko AU) Angkatan 65 di Gedung Widya Mandala I, Sesko AU, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu 30 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bima mengatakan Indonesia saat ini berada pada fase yang strategis untuk menentukan arah pembangunan ke depan. Ia menyebut sejumlah lembaga internasional memproyeksikan Indonesia berpotensi menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar dunia dalam 20 tahun mendatang. Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan kemampuan Indonesia membangun kemandirian.
Baca Juga
“Tidak ada negara yang bisa meloncat dari negara menengah ke maju tanpa membangun kemandirian negara,” tegas Bima.
Menurutnya, kemandirian tersebut mencakup berbagai aspek, salah satunya energi. Ketergantungan terhadap energi dapat memengaruhi ketahanan negara, terlebih ketika dinamika geopolitik global semakin kompleks. Ancaman terhadap negara juga tidak lagi hanya berbentuk konvensional, tetapi berkembang ke ranah siber, informasi, dan energi.
Baca Juga
Bima menjelaskan, energi saat ini menjadi fondasi bagi berbagai aktivitas, mulai dari pelayanan publik, industri, transportasi, fasilitas kesehatan, sistem pertahanan, hingga infrastruktur digital. Karena itu, ketahanan energi perlu dipersiapkan dengan memperhatikan ketersediaan sumber energi baru dan terbarukan, kemampuan teknologi, serta kesiapan masyarakat menerima perubahan.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah (Pemda) dalam mendukung agenda tersebut. Setiap daerah memiliki potensi energi yang berbeda sehingga Pemda perlu mampu mengidentifikasi potensi, kapasitas fiskal, sumber daya manusia, infrastruktur, serta sumber daya alam yang dimiliki.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Daerah ini penting. Mereka ini sekarang adalah frontliners, ada di garis depan untuk ketahanan energi,” ujar Bima.
Dalam paparannya, Bima juga menyampaikan tiga strategi yang tengah didorong pemerintah, yakni percepatan transisi energi berbasis energi baru dan terbarukan, penguatan cadangan dan diversifikasi energi nasional, serta transformasi konsumsi energi melalui elektrifikasi dan efisiensi energi.
Halaman Selanjutnya
Sebagai salah satu contoh, Bima menyoroti pengembangan pengolahan sampah menjadi energi listrik di Bogor. Ia menjelaskan, wilayah tersebut menghasilkan sekitar 4.000 ton sampah per hari dari kota dan kabupaten, sementara sebagian di antaranya dapat diolah menjadi energi listrik.