Banjarbaru (ANTARA) - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meminta pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berjalan bersamaan dengan pelayanan kesehatan masyarakat agar kebutuhan warga terdampak tetap terpenuhi selama kondisi karhutla belum pulih.
Wapres dalam kunjungan kerja di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis, menekankan bahwa keselamatan dan kebutuhan masyarakat harus tetap menjadi perhatian selama proses penanganan kebakaran berlangsung.
"Pemadaman titik api dan pelayanan warga harus berjalan bersamaan, khususnya pemenuhan kebutuhan pengobatan, ketersediaan masker, vitamin, air, logistik, hingga akses pendidikan,” katanya.
Ia meminta pemerintah memastikan kelompok rentan memperoleh perhatian memadai karena anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas menghadapi kebutuhan perlindungan yang lebih besar, ketika kualitas lingkungan terdampak asap karhutla.
Menurut Wapres, pelayanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan yang harus tetap tersedia bagi masyarakat, karena paparan asap dapat mengganggu kondisi kesehatan, terutama bagi warga yang memiliki kerentanan terhadap gangguan pernapasan akibat kualitas udara yang memburuk.
Gibran juga menekankan keberlangsungan pendidikan sehingga dampak karhutla tidak menghambat anak-anak dalam memperoleh layanan pendidikan, termasuk ketika kondisi lingkungan mengharuskan adanya perhatian khusus terhadap keselamatan peserta didik.
Karena itu, ia meminta pemerintah daerah menjaga ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat seperti masker, vitamin, air, obat-obatan, serta logistik agar warga tetap memperoleh dukungan selama menghadapi dampak karhutla.
Dengan demikian, kata Wapres, penanganan karhutla tidak berhenti pada upaya mengendalikan kebakaran, tetapi juga memastikan masyarakat yang berada di wilayah terdampak tetap mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang diperlukan selama kondisi darurat.
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.