Deru mesin jahit di Nusakambangan ubah jalan hidup warga binaan
Rabu, 29 Juli 2026 06:00 WIB
Sejumlah warga binaan sedang menjahit pakaian di Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Nirbaya Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (28/7/2026). ANTARA/Benardy Ferdiansyah
Cilacap (ANTARA) - Deru seratusan mesin jahit bersahutan memecah keheningan di sebuah bangunan di Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi yang dikelola Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nirbaya di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Suara jarum menembus kain berpadu dengan dengung mesin obras dan instruksi singkat dari para instruktur. Pemandangan itu menghadirkan wajah lain Nusakambangan, pulau yang selama ini lebih dikenal sebagai lokasi lembaga pemasyarakatan berpengamanan tinggi.
Di ruangan yang ditata menyerupai pabrik konveksi tersebut, seratusan warga binaan duduk berjajar di depan mesin jahit.
Setiap orang berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya, mulai dari memotong kain, menjahit, mengobras, memasang atribut hingga menyelesaikan tahap akhir. Tidak ada yang bekerja tergesa-gesa.
Setiap jahitan diperiksa dengan teliti karena kualitas produk menjadi tanggung jawab bersama.
Di satu sudut ruangan, seorang warga binaan mengarahkan kain berwarna biru tua ke bawah jarum mesin jahit.
Sesekali ia menghentikan pekerjaannya untuk memastikan jahitan tetap lurus sebelum kembali menginjak pedal. Di punggung kaus hijau yang dikenakannya tertulis "Warga Binaan Konveksi".
Ruang itu menjadi tempat belajar sekaligus tempat membangun harapan baru bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana.
BLK Konveksi merupakan salah satu program pembinaan kemandirian yang dikembangkan Lapas Nirbaya. Melalui program tersebut, warga binaan dibekali keterampilan menjahit menggunakan mesin industri agar memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Mereka tidak hanya mempelajari teknik dasar, tetapi juga terlibat dalam proses produksi sebagaimana di industri konveksi pada umumnya.
Proses belajar dimulai dari mengenal jenis kain, membaca pola, mengoperasikan mesin jahit, menggunakan mesin obras, hingga memahami standar kualitas hasil produksi. Setelah dinilai menguasai dasar-dasarnya, warga binaan mulai dilibatkan dalam pekerjaan produksi secara bertahap.
Bagi sebagian besar peserta, dunia konveksi merupakan pengalaman baru. Salah satunya Eko Cahyono, warga binaan asal Kabupaten Purwodadi yang sebelumnya dipindahkan dari Lapas Narkotika Purwokerto ke Lapas Nirbaya.
Baru sekitar dua bulan mengikuti pelatihan, Eko sudah mampu mengoperasikan mesin jahit dan bergabung dalam lini produksi.
Menurut Eko, proses belajar berlangsung cukup cepat. Setelah sekitar sepekan menerima pelatihan dasar, peserta langsung diberi kesempatan mempraktikkan kemampuan mereka dalam produksi sehari-hari.
"Saya merasa nyaman ikut kegiatan seperti ini daripada di kamar banyak bengong. Lebih baik ada kegiatan dan mendapat bekal keterampilan," katanya.
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026