Masih Dilanda Karhutla, Status Tiga Daerah di Kalbar Berbahaya

Jakarta, CNN Indonesia --

Kualitas udara di Kubu Raya, Mempawah, dan Sintang di Kalimantan Barat pada Rabu (23/9) ini capai tingkat berbahaya di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah provinsi tersebut.

Demikian status kualitas udara tersebut dikutip dari pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per Rabu (23/9) per pukul 13.00 WIB.

Kubu Raya menjadi daerah dengan kualitas udara terburuk. Konsentrasi partikulat PM2.5 di Kubu Raya terpantau mencapai angka 594.4 µg/m3.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, konsentrasi partikulat PM2.5 di Mempawah berada di angka 470.7 µg/m3.

Terakhir, daerah yang terpantau memiliki kualitas udara berbahaya di Kalbar adalah Sintang. Hal ini ditandai dengan konsentrasi partikulat PM2.5 di Sintang yang berada pada angka 331.5 µg/m3.

Konsentrasi partikulat PM2.5 di ketiga daerah ini berada jauh dari ambang batas tingkat berbahaya yaitu >250 µg/m3.

Tingginya PM2.5 dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya efek asap karhutla.

Hingga kini, masih terpantau 149 titik panas dan sembilan titik api di Kalbar.

Data ini diambil dari Dashboard Informasi Penanganan Karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana per Selasa (22/9).

Luas lahan di Kalbar yang terbakar selama 24 jam terakhir dari waktu pelaporan pun mencapai 60.3 hektare.

Jarak pandang dilaporkan hanya berjarak 0.2 hingga 6 km atau berbahaya.

Kualitas udara buruk imbas karhutla ini berdampak pada kesehatan masyarakat setempat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla pada periode 18 Agustus hingga 21 September 2026.

Tak hanya mencakup Kalbar, wilayah terdampak karhutla yang menjadi perhatian Kemenkes juga meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Dari 174.694 kasus ISPA yang dilaporkan, 40.363 di antaranya dialami balita, sebut Kemenkes.

Laporan BNPB

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan ke Presiden RI Prabowo Subianto bahwa hingga Rabu sore tadi masih ada 209,78 hektare hutan dan lahan yang masih terbakar.

Ia mengatakan jajarannya terus berupaya memadamkan kebakaran yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan itu.

"Kami laporkan saat ini per hari ini terdapat 209,78 hektare yang masih dipadamkan terus. Ini kami ikuti terus hari per hari sehingga kami upayakan setiap hari yang dipadamkan itu besar," kata Suharyanto dalam rapat terbatas membahas perkembangan terkini karhutla bersama presiden yang digelar secara hibrida melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/9), dikutip dari keterangan Sekretariat Presiden.

Selain itu, pemerintah juga terus mengintensifkan berbagai upaya untuk menyelesaikan karhutla ini antara lain dengan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Kepala BNPB mengatakan OMC akan dilakukan setidaknya sampai dengan musim hujan kembali normal.

(mou/mnf/kid)