Nabire (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mengembangkan Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) pada lahan seluas 567 hektare untuk meningkatkan produksi padi dan efisiensi budidaya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nabire Yasor Victor Sawo di Nabire, Jumat, mengatakan program tersebut menyasar lahan di Distrik Nabire Barat dan Makimi yang kini dalam tahap persiapan sebelum penanaman.
“Program ini seharusnya sudah mulai sejak Juli, tetapi terkendala kemarau panjang dan rehabilitasi jaringan irigasi Kalibumi, Distrik Nabire Barat,” katanya.
Pihaknya telah menyiapkan kebutuhan benih dan pupuk untuk pengembangan PM-AAS, namun masih menunggu selesainya perbaikan jaringan Kalibumi di Kampung Bumi Raya, Nabire Barat.
Ia mengatakan, Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua sedang mengerjakan perbaikan saluran primer irigasi di Kalibumi dan dijadwalkan menjalani uji coba pada Senin untuk memastikan kesiapan pengairan lahan.
Ia menjelaskan, program PM-AAS menerapkan metode tanam benih langsung atau tabela dengan pola jajar legowo. Sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja, air, dan sarana produksi.
Menurutnya, pengaturan kondisi lahan menjadi salah satu faktor penting pada tahap awal penanaman. Tanah harus dalam kondisi lembap tanpa genangan agar benih tidak terbawa aliran air.
Setiap hektare lahan diperkirakan membutuhkan sekitar 70 hingga 80 kilogram benih untuk penerapan metode tersebut.
Ia mengatakan, sasaran PM-AAS meliputi Kampung Bumi Raya di Distrik Nabire Barat serta Kampung Biha, Lagari Jaya, dan Maidei di Distrik Makimi.
Dibutuhkan koordinasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan kesiapan lahan, irigasi, benih, pupuk, serta pendampingan dan pengawasan teknis selama pelaksanaan program.
“Koordinasi ini penting agar setiap persoalan, baik teknis maupun nonteknis, yang muncul di lapangan bisa segera ditangani,” ujarnya.
Ia mengatakan penerapan PM-AAS diharapkan membuat budidaya padi lebih efektif dan efisien, terutama melalui penghematan biaya tenaga kerja dan penggunaan air.
“Model PM-AAS ini lebih efisien karena yang pertama menghemat biaya tenaga kerja, lalu penggunaan airnya juga sangat efisien,” katanya.
PM-AAS merupakan sistem budidaya padi yang menggabungkan pengaturan jarak tanam, efisiensi sumber daya, mekanisasi, intensifikasi produksi, dan teknologi adaptif.
Kementerian Pertanian mengembangkan sistem tersebut untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Penerapan PM-AAS di Nabire sebelumnya telah dirintis melalui tanam perdana di Kampung Biha dengan penggunaan drum seeder dan sistem jajar legowo.
BRMP Papua Tengah menyebut Nabire mendapat target luasan terbesar untuk penerapan PM-AAS di Papua Tengah.
Dengan kesiapan sarana produksi dan rencana uji coba jaringan irigasi Kalibumi, Dinas Pertanian Nabire menargetkan program tersebut segera masuk tahap penanaman setelah seluruh aspek teknis dinyatakan siap.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.