Pertamina Ungkap Konflik Timur Tengah Lebih Pelik dari Rusia-Ukraina, Harga BBM Jadi Taruhan

Jum'at, 11 September 2026, 17:56 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Pertamina Patra Niaga menilai gejolak geopolitik di Timur Tengah saat ini menghadirkan persoalan yang lebih pelik bagi pasar energi dibandingkan konflik Rusia-Ukraina. Dampaknya mulai terasa pada harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel dan berpotensi menekan harga BBM.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan situasi tersebut membuat pasar energi global sulit menemukan titik stabil. Ketidakpastian terutama berkaitan dengan potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya konflik di jalur strategis perdagangan minyak.

"Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$ 70 per barel atau US$ 60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).

Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya tekanan yang kini dihadapi pasar BBM akibat perkembangan geopolitik. Menurut Eko, situasi saat ini belum memberikan sinyal kuat bahwa harga minyak dunia akan segera kembali ke level sebelum krisis.

Pergerakan harga minyak bahkan sempat mencapai US$108 per barel pada perdagangan Kamis. Harga tersebut menjadi level tertinggi sejak Mei 2026 berdasarkan perkembangan pasar yang disampaikan dalam laporan tersebut.

Lonjakan itu terjadi ketika pertempuran di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah kembali meningkat. Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran juga terlibat dalam serangan terhadap Arab Saudi.

Situasi tersebut kemudian meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pasokan energi. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur strategis dalam perdagangan minyak dunia sehingga gangguan di kawasan tersebut dapat memicu kekhawatiran pasar.

Ketegangan juga merembet ke Selat Bab al-Mandab. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar harus memperhitungkan kemungkinan gangguan distribusi energi yang lebih panjang.

Para pedagang minyak kemudian meningkatkan pembelian minyak mentah sebagai langkah antisipasi. Ketika permintaan untuk mengamankan pasokan meningkat di tengah kekhawatiran gangguan distribusi, harga komoditas energi ikut terdorong naik.

Eko membandingkan situasi tersebut dengan periode konflik Rusia-Ukraina sebelumnya. Ia menilai persoalan yang muncul dari konflik Timur Tengah kali ini memiliki kompleksitas lebih tinggi bagi pasar energi.

Baca Juga: Minyak Dunia Tembus US$108, Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik

Dampak kenaikan harga minyak kemudian tidak berhenti di pasar komoditas. Harga BBM nonsubsidi di Indonesia juga berpotensi terdampak apabila harga minyak dunia terus bertahan pada level tinggi.

Eko menyebut produk seperti Pertamax dapat berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter apabila tidak ada indikasi penurunan harga minyak dunia. Namun, angka tersebut merupakan potensi berdasarkan kondisi pasar dan bukan keputusan harga baru dari Pertamina.

"Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," beber Eko.

Karena itu, penurunan harga minyak kembali menjadi faktor penting bagi kondisi harga BBM di dalam negeri. Eko berharap harga minyak dapat kembali ke kisaran US$60-US$70 per barel seperti sebelum krisis geopolitik.

Jika konflik terus berlangsung dan gangguan pasokan semakin panjang, tekanan terhadap pasar energi berpotensi bertahan lebih lama. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi harga BBM nonsubsidi dan biaya energi secara lebih luas.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama