Sering Curhat ke AI? Waspadai 5 Bahaya Ini Buat Kesehatan Mental Kamu |Republika Online

Curhat dengan chatbot AI (ilustrasi). Chatbot umum seperti ChatGPT atau Gemini tidak dirancang untuk layanan kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belakangan ini semakin banyak orang yang mengandalkan chatbot berbasis kecerdasan buatan (Al) untuk mencari dukungan emosional dan kesehatan mental. Chatbot Al terutama sangat populer di kalangan muda karena layanan ini mudah diakses, tersedia 24 jam, dan dianggap tidak menghakimi.

Namun, sebuah studi terbaru memperingatkan bahwa teknologi ini berpotensi memperburuk kondisi psikologis jika digunakan tanpa pengawasan. Studi dari University of Isfahan Iran dan dipublikasikan dalam Journal of Psychopathology and Clinical Science, melakukan analisis terhadap berbagai chatbot Al seperti ChatGPT, Meta Al, Google Gemini, dan lainnya.

Hasil kajian menunjukkan chatbot AI yang dirancang untuk kesehatan mental seperti Wysa setidaknya dapat memberi dukungan dan arahan bagi sebagian pengguna. Namun, chatbot umum seperti ChatGPT, Gemini dan lainnya dapat berisiko memperparah gangguan mental seseorang.

Peneliti studi Abasi Jondani mengatakan desain chatbot AI pada umumnya bersifat ramah dan "menjilat" sehingga menciptakan siklus berbahaya bagi pengguna yang rentan secara psikologis. Karena itu, chatbot Al seperti ChatGPT dan Gemini tidak bisa dijadikan tempat untuk mencari dukungan emosional.

"Chatbot umum seperti ChatGPT atau Gemini tidak dirancang untuk layanan kesehatan mental. Alat tersebut tidak memiliki protokol krisis maupun sistem perlindungan khusus yang diperlukan untuk menangani masalah psikiatri yang sensitif," kata dia seperti dikutip dari Medical Xpress, Jumat (24/7/2026).

Lebih lanjut dia mengungkap lima risiko kesehatan mental yang bisa terjadi dari penggunaan chatbot Al:

1. Menunda pertolongan profesional

Chatbot Al dapat terasa seperti solusi yang murah, cepat, dan mudah dibandingkan berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Namun, menurut Jondani, penggunaan chatbot sebagai pengganti layanan profesional dapat menciptakan perasaan bahwa seseorang sudah mendapatkan bantuan yang cukup, sehingga mereka menunda perawatan yang sebenarnya diperlukan.

2. Memperkuat kecemasan dan perilaku kompulsif

Pada orang dengan kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD), chatbot yang terus memberikan jawaban meyakinkan dapat memperkuat kebiasaan mencari kepastian. Alih-alih membantu mengurangi kecemasan, respons berulang dari Al dapat membuat pengguna semakin bergantung pada validasi dari chatbot.